Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Dosen UNJ Ditangkap

Polisi Jelaskan Kronologi Penetapan Tersangka Aktivis HAM Robertus Robet

Dedi menjelaskan Robertus Robet ditetapkan tersangka pascakepolisian menilai dua alat bukti terkait dugaan tersebut telah terpenuhi

Polisi Jelaskan Kronologi Penetapan Tersangka Aktivis HAM Robertus Robet
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
Aktivis HAM yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Robertus Robet di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/3/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan penjelasan terkait ditetapkannya aktivis HAM Robertus Robet sebagai tersangka dalam kasus dugaan penghinaan terhadap institusi TNI.

Dedi menjelaskan Robertus Robet ditetapkan tersangka pascakepolisian menilai dua alat bukti terkait dugaan tersebut telah terpenuhi.

Baca: Koalisi Masyarakat Sipil : Hentikan Proses Penyidikan terhadap Robertus Robet

Adapun saat diamankan di kediamannya, Robet masih menyandang status sebagai terperiksa. Setelah pemeriksaan barulah statusnya naik sebagai tersangka.

"(Saat diamankan, - red) Masih terperiksa. Setelah diperiksa baru ditingkatkan jadi tersangka," ujar Dedi, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/3/2019).

Adapun dua alat bukti yang terpenuhi adalah pemeriksaan dari sejumlah saksi ahli serta pengakuan dari yang bersangkutan.

"Yang pertama adalah dari pemeriksaan ahli, kemudian (yang kedua, - red) dari alat bukti berupa pengakuan yang bersangkutan. Yang bersangkutan sudah mengakui betul tadi seperti apa yang disampaikan secara verbal, narasi yang disampaikan pada saat demo hari Kamis kemarin, kamisan," jelasnya.

Dedi Prasetyo itu mengatakan sebelum penjemputan kepada Robet, pihaknya telah melakukan gelar perkara terlebih dahulu.

Bahkan, kepolisian juga telah memeriksa beberapa saksi ahli, mulai dari saksi ahli pidana hingga bahasa.

"Sebelum Polri melakukan upaya paksa, Polri sudah melakukan gelar perkara dan sudah memeriksa beberapa saksi ahli dulu. Jadi saksi ahli, baik pidana kemudian saksi ahli bahasa, kemudian membuat konstruksi hukumnya dulu untuk Pasal 207 KUHP," tuturnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
  Loading comments...

Berita Terkait :#Dosen UNJ Ditangkap

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas