Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kesetiaan Sumarsih dalam Keheningan Aksi Kamisan di Depan Istana Negara

Sepanjang aksi, mereka hanya diam dalam kesunyian, tanpa kata. Meski aksi diam, Kamisan selalu mendapat penjagaan dari anggota Polri berseragam.

Kesetiaan Sumarsih dalam Keheningan Aksi Kamisan di Depan Istana Negara
Tribunnews.com/Syahrizal
Rambut Sumarsih boleh memutih, usianya sudah menginjak kepala enam. Namun semangatnya dalam menyuarakan kemanusiaan, tak pernah berhenti ditelan angin. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Berkaos dan berpayung hitam, sosok Maria Sumarsih selalu hadir setiap aksi Kamisan.

Bersama keluarga korban penembakan, aktivis dan mahasiswa, Sumarsih berdiri menghadap Istana Negara.

Sepanjang aksi, mereka hanya diam dalam kesunyian, tanpa kata. Meski aksi diam, Kamisan selalu mendapat penjagaan dari anggota Polri berseragam.

Mereka berdiri membentuk barisan. Membelakangi Istana Negara, berdiri tegap berhadapan dengan massa Kamisan.

Aksi ‎Kamisan (14/11/2019) kemarin merupakan aksi ke-610 yang berlangsung sejak 19 April 2007. Aksi ini terbuka bagi siapa pun yang peduli dengan keadilan kasus pelanggaran HAM di tanah air.

Meski seluruh rambutnya sudah putih, Sumarsih tetap berharap adanya keadilan, meneruskan perjuangan sang anak, Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Atma Jaya, Jakarta.

Baca: Pengemudi Ojek Online Tidak Bisa Masuk Area Dalam Istana

Baca: Cerita Siti Jauharoh Menjadi Juru Ketik Saat Abdul Kahar Mudzakkir Terjemahkan Buku Berbahasa Arab

Sumarsih hadir di Peringatan 21 tahun Tragedi Semanggi I, Rabu (13/11/2019) sore di sebrang Istana Negara, Jakarta.
Sumarsih hadir di Peringatan 21 tahun Tragedi Semanggi I, Rabu (13/11/2019) sore di sebrang Istana Negara, Jakarta. (TRIBUNNEWS.COM/THERESIA FELISIANI)

Anak sulung Sumarsih itu tewas diterjang peluru tajam dalam tragedi Semanggi 1, Jumat (13/11/1998). Dia sangat menginginkan kasus yang menewaskan sang anak diselesaikan di Pengadilan HAM ad hoc.

"Harapan saya, Pak Jaksa Agung yang baru memikirkan penyelesaian tragedi penembakan para mahasiswa yang sudah diselidiki Komnas HAM," ujarnya saat ditemui di sebrang Istana, Kamis (14/11/2019) di aksi Kamisan ke-610.

"Kamisan tidak pernah putus. Saya akan mengambil agenda reformasi yang ketiga yaitu tegakkan supremasi hukum. Barometernya kalau negara berani menggelar pengadilan HAM ad hoc Semanggi I, II dan Trisaksi. Selama tidak berani, pengulangan kejadian kekerasan akan terus terjadi," tuturnya lagi.

Baca: Alasan Jokowi Kemabali Tunjuk Yasonna Laoly Jadi Menteri Hukum dan HAM

Baca: Ditunjuk Jadi Calon Wakil Menteri ATR, Siapa Surya Tjandra? Terungkap Punya Jabatan Penting di AS

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Anita K Wardhani
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas