Tribun

Virus Corona

Guru dan Siswa Diminta Manfaatkan Teknologi untuk Kegiatan Belajar di Masa Pandemi

Sandiaga Uno berharap guru dan siswa memanfaatkan teknologi secara maksimal saat penerapan belajar dari rumah

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Sanusi
zoom-in Guru dan Siswa Diminta Manfaatkan Teknologi untuk Kegiatan Belajar di Masa Pandemi
Dok FDIK
Sandiaga Salahudin Uno 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno berharap guru dan siswa memanfaatkan teknologi secara maksimal saat penerapan belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19.

“Di era Indonesia modern, di Era kita masuk ke revolusi industri 4.0, maka ini adalah kesempatan kita untuk mempercepat terutama pendidikan bahwa semua lini pendidikan harus dapat menjalankan konsep study from home,” kata Sandi dalam keterangannya, Jakarta, Senin (13/7/2020).

Baca: Politikus PPP Berharap Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Hanya saat Pandemi

Baca: Ruangguru Hadirkan Sistem Kelola Pembelajaran Jarak Jauh Gratis Bagi Seluruh Sekolah di Indonesia

Meski bisa belajar dari rumah dengan bantuan teknologi, Sandi mengingatkan agar para orang tua selalu mengontrol dan membimbing anak-anaknya dalam proses belajar.

“Tentunya kita tidak bisa melepas mereka dengan teknologi. Kita harus berikan bimbing agar teknologi itu membantu mereka dalam meningkatkan kapasitas, proses belajar dan mengajar,” kata Sandiaga.

Sandi mengingatkan selama virus ini masih ada, maka masyarakat terutama guru dan murid harus terbiasa dengan kebiasaan baru saat sekolah-sekolah mulai dibuka pada masa new normal atau normal baru.

“Kita tidak bisa lari dari kenyataan ini bahwa suatu realita baru, new normal itu kita harus terbiasa dengan dengan hal-hal yang dulu kita tidak terbiasa, misalnya kita sekarang menggunakan masker, juga selalu menjaga kebersihan dengan hand sanitizer dan terbiasa mencuci tangan, tidak bersalaman, tidak berpelukan,” katanya.

SEMANGATI SISWA - Tri Wahyuningtyas guru kelas IV SDN Kaliasin I melakukan meeting daring dengan siswanya untuk memotivasi siswa dan melakukan feed back pembelajaran online selama pembelajaran jarak jauh di rumah, Senin (8/6). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
SEMANGATI SISWA - Tri Wahyuningtyas guru kelas IV SDN Kaliasin I melakukan meeting daring dengan siswanya untuk memotivasi siswa dan melakukan feed back pembelajaran online selama pembelajaran jarak jauh di rumah, Senin (8/6). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ (SURYA/SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ)

“Saya yakin pandemi Covid-19 memberikan satu ujian bagi sistim pendidikan kita untuk beradaptasi dan bukan hanya murid, tapi guru juga beradaptasi, orang tua juga beradaptasi, lingkungan juga beradaptasi,” lanjut dia.

Dalam kesempatan ini, Sandi juga mengingatkan kedepan sistim pendidikan akan berubah, di mana mengarah pada vokasi atau peningkatan keterampilan sambil praktek.

“Kita akan masuk kedalam konsep dimana kuliah sambil kerja, vokasi sambil kerja. Akhirnya pendidikan itu menjadi life long learning, tidak hanya 18-20 tahun, dengan adanya covid ini edukasi kita terutama experience learning akan sangat relevan,” ujar dia.

Menurutnya, dengan sistem tersebut akan menuntut setiap orang untuk terus belajar karena perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat.

“Mungkin umur 30 tahun teknologi sudah berubah. Sehingga hal-hal yang kita pelajari pada saat 17 tahun sudah berganti total,” katanya.

Sebelumnya, Sandi juga mengingatkan bahwa bonus demografi yang terjadi di Indonesia pada 2030-2040, bisa menjadi bencana demografi bila tidak ada melakukan investasi di sektor pendidikan.

Sandi memaparkan bahwa penduduk Indonesia yang tahun 2019 ini berusia 7 tahun, rata-rata mereka berharap bisa mengikuti pendidikan 12 tahun atau hanya hanya lulusan SMA- sederajat.

“Bonus demografi itu akan berubah menjadi bencana demografi kalau kita enggak bisa ubah bahwa mayoritas anak usia 7 tahun ini cuma dapat pendidikan 12 tahun kedepan,” kata Sandi.

Sandi berharap pemerintah dan semua pihak benar-benar memikirkan masa depan mereka, sehingga bonus demografi menjadi peluang dan cita-cita Indonesia Emas 2045 terwujud.

“Mereka harus dapat kesempatan pendidikannya minimal sampai S1 (sarjana) selesai, dan sebagian S2 (magister) dan akhirnya S3 (doktor). Jadi bonus demografi itu bisa jadi bencana kalau kita tidak invest di pendidikan," paparnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas