Indonesia di Ambang Resesi, Ekonom: Harus Optimis, Kita Pernah Alami Kondisi yang Lebih Parah
Pakar ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Taufiq Arifin, menyebut Indonesia pernah mengalami kondisi yang lebih sulit dari resesi.
Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: Garudea Prabawati
Taufiq menyebut ada sejumlah tanda terjadinya resesi.
"Kita perlu bersiap-siap, ada beberapa kondisi yang kita lihat, misalnya naiknya pengangguran, menurunnya aktivitas ekonomi, disebabkan karena tingkat konsumsi turun," ujar Taufiq.
Lebih lanjut, Taufiq meyakini Indonesia dapat terlepas dari krisis.
Dengan syarat Indonesia harus bisa menyelesaikan situasi pandemi Covid-19 terlebih dahulu.
"Kita menyadari saat ini masih di masa pandemi, jadi kalau tidak bisa menyelesaikan pandemi maka konsekuensinya akan panjang," ungkapnya.
"Kalau kita memang mau mencoba beraktivitas maka syarat utama kita harus jaga protokol kesehatan supaya menghilangkan masalah utama tersebut," imbuhnya.
Baca: IHSG Hari Ini Berpotensi Kembali Menguat Meski dalam Bayangan Resesi
Taufiq menyebut jika kegiatan dengan mematuhi protokol kesehatan dapat dilakukan dengan baik, akan menuju adanya pergerakan ekonomi.
Pergerakan ekonomi yang membaik inilah yang menjadikan Indonesia terlepas dari jurang resesi.
"Kalau sudah bisa dipenuhi maka dengan badan yang sehat mestinya akan bisa melihat peluang-peluang, maka di sana kita bisa meng-create value baru di tengah pandemi, terus gerakkan roda ekonomi dengan kemampuan yang dipunyai," jelas Taufiq.
Baca: Soetrisno Bachir Sebut Resesi Ekonomi Bukan Masalah Besar, Ini Alasannya
Sementara itu resesi dipastikan akan terjadi pada kuartal III tahun 2020 ini.
Dalam artian, kinerja perekonomian RI mengalami perlambatan aktivitas perekonomian secara berkepanjangan.
Dilansir Kompas.com, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan, kuartal III tahun ini pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi bakal mengalami kontraksi di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1 persen.
Febrio menyebut pemerintah telah mengantisipasi kinerja kuartal III yang bakal kembali mengalami kontraksi setelah pada kuartal II lalu, pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen.
"Nah ini memang sudah diantisipasi dengan data-data tersebut dan terlihat memang pemulihan perekonomian dari kuartal II ke kuartal III memang terjadi, tapi tidak secepat yang diharapkan," jelas Febrio di Jakarta, Kamis (1/10/2020).
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.