Tribun

Virus Corona

Kurangi Ketergantungan PCR, LIPI Kembangkan RT-LAMP

Dengan alat tersebut tes swab yang tadinya memakan waktu berhari-hari bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
Kurangi Ketergantungan PCR, LIPI Kembangkan RT-LAMP
Tribunnews/Jeprima
Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro saat wawancara khusus dengan Tribun Network di Kantor Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2020). Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Selain alat deteksi Covid-19 yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) bernama GeNose, inovasi lainnya buatan anak negeri yakni alat rapid swab test buatan LIPI bernama Reverse Transcription loop-mediated isothermal amplification (RT-LAMP).

Dengan alat tersebut tes swab yang tadinya memakan waktu berhari-hari bisa dilakukan dalam waktu singkat. 

"Dimana swab test yang biasanya memakan waktu lama dan membutuhkan laboratorium , bisa dilakukan dengan waktu yang lebih cepat, dibawah satu jam dan tanpa menggunakan laboratorium BSL 2," kata Menristek Bambang Brodjonegoro usai rapat terbatas bersama Presiden, Senin (12/10/2020).

Baca juga: Pemerintah Tetapkan Harga Maksimal Tes PCR Rp 900 Ribu, PT Indofarma Hanya Rp 750 Ribu

Menurut Bambang, rapid swab test tersebut bisa menjadi solusi rumitnya tes PCR saat ini.

Karena waktunya lebih cepat dan juga biayanya lebih murah. 

"Dan juga tingkat akurasinya sangat bisa dipertanggungjawabkan," kata Menristek.

Di samping inovasi tersebut, pemerintah juga telah mengembangkan alat rapid tes lokal yang telah di launching Mei lalu.

Kapasitas produksi rapid tes tersebut setiap bulannya terus meningkat. 

"Produksinya per bulan ini sudah 350 ribu per bulan. Dan diperkirakan bulan depan sudah bergerak naik menuju  1 sampai 2 juta per bulan," katanya.

Berdasarkan arahan Presiden menurut Bambang, penggunaan rapid test mengutamakan alat tes produksi dalam negeri.

Hal itu untuk mengurangi ketergantungan impor. 

"Nah karena rapid test ini bersifat antibodi memang senstifitasnya tinggi tapi spesifitasnya yang kurang tinggi. Sehingga tingkat akurasinya kadang-kadang memang tidak bisa diandalkan untuk  menjadi bagian dari testing. Sehingga rapid test memang difokuskan untuk screening," pungkasnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas