Tribun

Jakob Oetama Meninggal Dunia

Mengenang 40 Hari Jakob Oetama, Sosok Pendiri Kompas Gramedia Dinilai Extraordinary

Kepergian Jakob Oetama, pendiri grup Kompas Gramedia, pada 9 September 2020 lalu masih terlintas di pikiran. Sosoknya selalu diingat.

Editor: Anita K Wardhani
Mengenang 40 Hari Jakob Oetama, Sosok Pendiri Kompas Gramedia Dinilai Extraordinary
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Keluarga berdoa di depan peti jenazah almarhum pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama di rumah duka, di Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama meninggal pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading karena penyakit. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

"Beliau itu sering bertanya kalau kita sedang menggalang dana. Dia bertanya dapat berapa, saya kira
beliau itu tidak butuh uang, uang beliau itu banyak, tidak butuh uang pembaca. Ternyata beliau ingin tahu, sejauh mana kepercayaan masyarakat terhadap Kompas yang dititipi dana itu," kenang Nasir.

Pada 2004, bantuan dana yang disumbangkan masyarakat untuk korban bencana Tsunami Aceh mencapai miliaran rupiah. Saat itu, kata Nasir, Jakob Oetama begitu senang dan merasa bangga.

"Kita masih dipercaya masyarakat ya bung, kita peliharalah terus. Jadi jumlah uang yang terkumpul dalam dompet Kompas itu adalah representasi kepercayaan masyarakat," ucap Nasir menirukan ucapan Jakob Oetama.

Petugas membawa peti jenazah almarhum Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama untuk disemayamkan di Kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/9/2020) malam. Jakob Oetama meninggal dunia di usia 88 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara akibat gangguan multiorgan, dan rencananya akan dimakamkan di TMP Kalibata pada Kamis (10/9). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas membawa peti jenazah almarhum Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama untuk disemayamkan di Kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/9/2020) malam. Jakob Oetama meninggal dunia di usia 88 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara akibat gangguan multiorgan, dan rencananya akan dimakamkan di TMP Kalibata pada Kamis (10/9). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Tsunami Aceh
Nasir menceritakan, Jakob Oetama turun langsung ke lapangan saat menyalurkan bantuan dana untuk korban Tsunami Aceh. Pelaksanaan di lapangan, Jakob ikut mengontrol ketika rehabilitasi gedung-gedung yang ambruk karena Tsunami di Aceh.

"Beliau turun ke Aceh untuk meninjau progres pembangunan asrama di sana, asrama kampus. Kemudian beliau itu juga sering menelepon saya, bertanya, ada tidak orang yang menghalang-halangi penyaluran dana untuk masyarakat," ujar dia.

Nasir kemudian diminta menghadap, dan secara khusus Jakob bertanya, ada tidak ada orang-orang yang menghambat penyaluran dana untuk korban Tsunami Aceh.

"Saya tidak menyebutkan, saya mengatakan itu bagian dari prosedur yang harus dihadapi karena ada perubahan sistem dan lain-lain," ucap Nasir menirukan jawabannya saat menghadap Jakob Oetama beberapa tahun silam.

Nasir kemudian menjelaskan, anak-anak di sekolah itu tidak langsung menerima bantuan yang disalurkan Kompas. Alasannya tak lain karena harus lewat pembayaran via rekening.

"Sementara anak-anak sekolah kadang tidak punya rekening, terutama yang tinggal di kampung. Kalau dititipkan di guru atau sekolah, dengan bantuan SPP anak-anak itu terkadang tidak sampai," katanya.

"Kebingungan di gurunya, karena dia lihat rekening dia, bingung antara uangnya sudah masuk apa belum sementara titipannya itu tidak cukup banyak, ratusan ribu saat itu untuk membayar SPP," katanya lagi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas