Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Bersaksi di Sidang Andi Irfan Jaya, Pinangki Kembali Minta Ubah BAP

Pinangki yang juga terdakwa dalam kasus serupa mengubah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) miliknya.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Bersaksi di Sidang Andi Irfan Jaya, Pinangki Kembali Minta Ubah BAP
Tribunnews/Irwan Rismawan
Terdakwa kasus suap dan gratifikasi pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra, Pinangki Sirna Malasari bersiap menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (25/11/2020). Sidang tersebut beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni mantan Pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking dan Andi Irfan Jaya. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jaksa Pinangki Sirna Malasari dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara pengurusan red notice Djoko Tjandra, untuk terdakwa Andi Irfan Jaya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2020).

Pinangki yang juga terdakwa dalam kasus serupa mengubah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) miliknya.

Dalam sidang, Pinangki menyatakan bahwa ia kenal dengan Djoko Tjandra.

Ia meminta BAP sebelumnya yang menerangkan dirinya tidak kenal dengan Djoko Tjandra diubah menggunakan keterangan terbaru.

"Padahal saya sudah tahu Djoko Tjandra, di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saya bilang nggak kenal, tapi pada kenyataanya saya kenal," kata Pinangki.

Baca juga: Ahli IT Forensik Temukan Foto Uang Dolar dalam Laptop Suami Pinangki

Padahal Pinangki dalam persidangannya sendiri beberapa waktu lalu, juga mengubah BAP soal perkara kenal atau tidak kenal dengan Djoko Tjandra sebelum pertemuan di Kuala Lumpur.

Lantas, ucapan Pinangki dipertanyakan oleh hakim persidangan. Hakim menyebut Pinangki mengeluarkan pernyataan yang kerap berubah. Pinangki diingatkan untuk konsisten memberi keterangan.

Berita Rekomendasi

Sebab segala ucapan saksi maupun terdakwa dalam persidangan dicatat dan akan menjadi pertimbangan.

"Setiap kali ada yang saudara berikan dengan berikutnya berbeda-beda. Komentar terhadap saksi satu dengan lainnya nggak ada yang sama. Semua kita catat itu," tegas hakim.

Usai hakim selesai mengingatkan, Pinangki dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tetap mau mengubah BAP sebelumnya dengan keterangan di sidang hari ini.

Ia menegaskan bahwa dirinya sejak bulan Oktober 2019 sudah tahu akan dipertemukan dengan Djoko Tjandra, yang saat itu sebagai buronan Kejaksaan Agung dalam kasus hak tagih (cassie) Bank Bali, di Kuala Lumpur, Malaysia.

"Yang benar saya sampaikan di sidang ini majelis. Keterangan saya yang benar adalah dari bulan Oktober saya sudah tahu yang akan saya temui adalah Djoko Tjandra," jelas Pinangki.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga mendakwa eks politikus NasDem, Andi Irfan Jaya, ikut melakukan pemufakatan jahat bersama-sama mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung RI, Pinangki Sirna Malasari, dan terpidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra.

Andi, Pinangki, dan Djoko diduga bermufakat jahat untuk memberi atau menjanjikan uang sebesar 10 juta dolar AS atau senilai Rp145 miliar kepada Pejabat di Kejagung dan Mahkamah Agung (MA).

Uang suap sekira Rp145 miliar tersebut diduga bertujuan agar pejabat Kejagung dan MA memberikan fatwa MA melalui Kejagung, agar pidana penjara yang dijatuhkan kepada Djoko berdasarkan putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009 tidak bisa dieksekusi.

Awalnya, pada 22 November 2019, Andi sempat dihubungi oleh Pinangki. Pinangki meminta bantuan Andi untuk menemaninya bertemu dengan Djoko di Kuala Lumpur, Malaysia pada 25 November 2019.

Andi sepakat dengan permintaan Pinangki. Andi, Pinangki, dan Anita Dewi Anggraeni Kolopaking selaku kuasa hukum Djoko Tjandra akhirnya bertemu di Bandara Soekarno Hatta untuk bersama-sama pergi ke Kuala Lumpur.

Ketiganya kemudian bertemu dengan Djoko di Kantor The Exchange 106 Kuala Lumpur Malaysia.

Dalam pertemuan tersebut, Pinangki memperkenalkan terdakwa Andi sebagai konsultan yang akan meredam pemberitaan di media massa apabila Djoko kembali ke Indonesia.

Selanjutnya, Andi, Anita, dan Pinangki menyerahkan serta memberikan penjelasan mengenai rencana atau planning berupa action plan kepada Djoko untuk mengurus fatwa MA melalui Kejagung.

Atas perbuatannya, Andi Irfan Jaya didakwa melanggar Pasal 15 Juncto Pasal 5 ayat (1) huruf a dan Pasal 15 Juncto Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas