Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Satu Tahun Covid-19, Legislator Demokrat Minta Pemerintah Jangan Profit Oriented

Partai Demokrat nilai penanganan Covid-19 setahun terakhir masih tidak maksimal, pemerintah terkesan condong penanganan ekonomi daripada kesehatan.

Satu Tahun Covid-19, Legislator Demokrat Minta Pemerintah Jangan Profit Oriented
Istimewa
Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Demokrat Lucy Kurniasari 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Legislator Partai Demokrat Lucy Kurniasari mengatakan penanganan Covid-19 setahun terakhir di Indonesia masih tidak maksimal. 

Menurutnya, pemerintah masih terkesan lebih condong pada penanganan ekonomi daripada kesehatan. 

Hal itu, kata dia, terlihat dari penunjukkan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 kepada Menko Perekonomian Airlangga Hartanto.

Sementara posisi Menteri Kesehatan tidak banyak diberi peran dalam penanganan Covid-19.

"Alokasi anggaran untuk bidang kesehatan juga tidak sebesar bidang ekonomi. Ini menguatkan penilaian pemerintah menomorduakan pendekatan kesehatan dalam penanganan Covid-19," ujar Lucy, kepada wartawan, Kamis (4/3/2021). 

"Walaupun harus diakui, khusus penanganan vaksinasi, Menteri Kesehatan diberi peran. Hanya saja data warga yang akan divaksin dinilai tidak akurat," imbuhnya. 

Baca juga: Setahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, PKS: Pemerintah Bingung, Rakyat Jadi Korban

Baca juga: Suka Duka Wali Kota Airin Tangani 1 Tahun Pandemi Covid-19 di Tangsel, Emosi Naik Turun

Selain itu, anggota Komisi IX DPR RI itu mengatakan bahwa Menteri Kesehatan tidak diberi peran yang memadai dalam menentukan jenis vaksin yang akan digunakan. 

Dia mempertanyakan keanehan dimana justru Kementerian BUMN dan Kementerian Luar Negeri yang berperan besar dalam pembelian vaksin.

Lucy menyebut vaksin yang digunakan paling banyak produk Sinovac yang menurutnya efektivitasnya paling rendah diantara vaksin produk lainnya.

Karena itu, dikhawatirkan vaksinasi secara nasional tidak akan berjalan efektif.

"Apalagi dari info yang saya terima, banyak tenaga kesehatan yang setelah divaksin dua kali justru terpapar Covid-19. Hal ini membuat kita sedikit pesimis dengan hasil vaksin produk Sinovac," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Lucy mengaku kekhawatirannya kini makin besar dengan masuknya mutasi virus Covid-19 yang baru (B.11.7) di Indonesia. 

"Saya sangat pesimis vaksin Sinovac efektif mengatasi mutasi virus Covid-19. Saya berharap, penanganan Covid-19 jangan terlalu profit oriented. Kesan itu harus dihilangkan agar masyarakat menilai pemerintah memang sungguh-sungguh dalam penangan Covid-19," tandasnya. 

Ikuti kami di
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Theresia Felisiani
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas