Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Gejolak di Partai Demokrat

Respons Relawan Jokowi Sikapi Ditolaknya Hasil KLB Demokrat Deli Serdang oleh Pemerintah

Jokowi Mania angkat suara terkait keputusan pemerintah menolak permohonan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Deliserdang.

Respons Relawan Jokowi Sikapi Ditolaknya Hasil KLB Demokrat Deli Serdang oleh Pemerintah
Tribun-Medan.com
Ilustrasi Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang. 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Relawan pendukung Presiden Joko Widodo, Jokowi Mania angkat suara terkait keputusan pemerintah menolak permohonan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Deliserdang, Sumatera Utara yang diajukan Jhoni Allen Marbun Cs.

Ketua Joman, Immanuel Ebenezer alias Noel dengan ditolaknya hasil KLB Deli Serdang harusnya kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meminta maaf.

Karena sebelumnya kubu AHY telah menyeret-menyeret nama Jokowi pada awal konflik partai Demokrat tersebut.

Baca juga: KLB Kubu Moeldoko Ditolak, Reaksi Kakak Beradik Demokrat hingga Mahfud MD

"Malu dan harusnya minta maaf. Sudah teriak teriak ke sana kemari. Tuduh dan main fitnah akhirnya semua terang benderang ketika pemerintah menyatakan partai Demokrat versi KLB tidak bisa disahkan," kata Noel kepada Tribunnews. com, Kamis (1/5/2021).

Sebagai anak muda yang memimpin partai, AHY, kata Noel harus bersikap gentleman.

AHY harus berani tampil di depan publik meminta maaf atas pernyataan anak buahnya yang menuding pemerintah terlibat dalam konflik partai berlambang mercy itu.

"AHY juga pimpinan partai. Harus berani bertanggung jawab atas penyataan-pernyataan dari anak buahnya," kata dia.

Baca juga: Demokrat Beri Kesempatan Moeldoko Jadi Anggota Partai, Akan Dibantu Maju di Pilgub DKI Jakarta

Menurut Noel, pola-pola lama dalam mencari popularitas sudah tidak relevan lagi dilakukan sekarang.

Termasuk pola bermain menjadi korban atas kebijakan pemerintah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas