Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Seleksi Kepegawaian di KPK

Soal Materi TWK KPK Dinilai Nyeleneh, Pengamat Hukum: Apa Kaitannya dengan Komitmen Kebangsaan

Dr Agus Riwanto, ikut menanggapi isu polemik tes wawasan kebangsaan (TWK) yang dilakukan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Soal Materi TWK KPK Dinilai Nyeleneh, Pengamat Hukum: Apa Kaitannya dengan Komitmen Kebangsaan
KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN
Logo KPK. Pengamat Hukum Tata Negara Fakultas Hukum dan Direktur LKBH FH UNS Surakarta, Dr Agus Riwanto, ikut menanggapi isu polemik tes wawasan kebangsaan (TWK) yang dilakukan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Hukum Tata Negara Fakultas Hukum dan Direktur LKBH FH UNS Surakarta, Dr Agus Riwanto, ikut menanggapi isu polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Agus menilai, seleksi atau tes dan pertanyaan yang ada dalam TWK agak nyeleneh.

Karena, menurutnya, banyak materi yang justru tidak ada kaitannya dengan komitmen kebangsaan.

"Kalau saya baca di banyak pemberitaan media itu, seleksi atau tes kuisioner dan pertanyaan-pertanyaan dalam TWK itu kan agak nyeleneh-nyeleneh."

"Banyak materi yang apa sih sebenarnya kaitannya dengan komitmen kebangsaannya," kata Agus kepada Tribunnews.com, Sabtu (8/5/2021).

Baca juga: ICW Sebut Tes Wawasan Kebangsaan yang Diikuti Pegawai KPK Sebagai Tes Abal-abal

Baca juga: Abraham Samad Sangsi Bakal Ada Lagi OTT Sekelas Menteri di KPK

Ada Materi Soal Doa Qunut hingga LGBT dalam TWK

Diketahui sebelumnya, beredar kabar jika dalam tes TWK ini terdapat pertanyaan mengenai doa qunut, bahkan ada juga tentang LGBT.

Agus pun mempertanyakan apa esensi dari soal-soal ini dalam mengukur komitmen kebangsaan seseorang.

Lebih lanjut, Agus menuturkan, dalam hal ini yang menjadi kekeliruan adalah tidak adanya penjelasan dan akuntabilitas kepada publik.

"Misalnya ada pertanyaan mengenai doa qunut, bahkan ada LGBT. Apa sih sebenernya esensinya untuk mengukur komitemen kebangsaan seseorang."

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Faryyanida Putwiliani
Editor: Whiesa Daniswara
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas