Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Seleksi Kepegawaian di KPK

Respons Fahri Hamzah Terkait Soal Dalam TWK KPK: Itu Kan Tes Reaksi Kejiwaan

Politikus Fahri Hamzah memberikan tanggapan terkait soal-soal yang diajukan dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) kepada pegawai KPK.

Respons Fahri Hamzah Terkait Soal Dalam TWK KPK: Itu Kan Tes Reaksi Kejiwaan
Tribunnews.com/ Lusius Genik
Politikus Fahri Hamzah 

Laporan wartawan tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politikus Fahri Hamzah memberikan tanggapan terkait soal-soal yang diajukan dalam Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) kepada pegawai KPK sebagai syarat alih status menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Diketahui, sejumlah soal dalam TWK KPK mengemuka ke ruang-ruang publik dan menuai polemik.

Satu di antaranya yakni soal yang mengharuskan pegawai KPK untuk memilih antara Pancasila dan kitab suci.

Fahri berpandangan, bahwa soal-soal yang diajukan dalam TWK KPK, merupakan serangkaian tes untuk melihat reaksi kejiwaan seseorang yang akan diangkat menjadi penegak hukum.

"Tes-tes seperti itu kan' tes reaksi kejiwaan. Harusnya orang dites itu, kalau dia mau jadi penegak hukum, dia harus dingin. Tidak boleh mudah terprovokasi, tidak boleh goncang oleh tekanan," kata Fahri saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Kamis (3/6/2021).

Fahri tak memungkiri pertanyaan dalam TWK KPK, sebagaimana beredar di pemberitaan, mengandung unsur tekanan yang agak menyasar kepada pribadi seseorang.

Baca juga: Pimpinan KPK Tolak Pencabutan SK Penonaktifan Pegawai yang Tak Lolos TWK, Ini Alasannya

"Menekan dan sebagainya. Disuruh milih Pancasila atau Alquran misalnya," ujar Fahri.

Namun, lanjut Fahri, bukan berarti kalau anda milih Pancasila benar kemudian Alquran menjadi salah.

"Bukan begitu. Tapi Anda mau dicek sikap Anda kalau ada dilema seperti ini bagaimana. Itu kan menandakan jiwa kita. Mungkin itu yang diuji," ujar Fahri.

Baca juga: Makna Kalimat Otot dan Otak Pegawai KPK Tidak Lagi Kuat dalam Surat Terbuka Fahri Hamzah

Lebih lanjut Fahri mengatakan, kalau memang ada pertanyaan-pertanyaan yang dianggap berlebihan dari soal TWK KPK, maka perlu dievaluasi.

Evaluasi tentu harus dilakukan lembaga yang memang memiliki kewenangan, bukannya KPK.

"Kalau dulu KPK merekrut pegawainya sendiri, bikin keputusan tentang pegawainya sendiri, sistem pengkajian sendiri. Ini menjadi temuan BPK waktu itu. Sekarang dia harus mengintegrasikan," kata Fahri.

"Makanya yang merekrut Badan Kepegawaian Negara (BKN). Jadi saya kira itu sudah merupakan integrasi kerja sistem. Wajar saja," sambung Fahri.

Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas