Tribun

Posisi Megawati Jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN Dinilai Sebagai Skema Strategis Pembangunan Nasional

Posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN menunjukkan adanya suatu skema strategis.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Adi Suhendi
Posisi Megawati Jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN Dinilai Sebagai Skema Strategis Pembangunan Nasional
ISTIMEWA
Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo menilai, posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN menunjukkan adanya suatu skema strategis dalam proyeksi pembangunan nasional ke depan.

Penempatan ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) ex officio sebagai ketua Dewan Pengarah BRIN, menurut Karyono, mencerminkan skema proyeksi pembangunan yang menyeleraskan antara ilmu pengetahuan (science) dengan cita-cita pembangunan nasional yang mengacu pada aspek filosofis, ideologis, dan yuridis.

"Tujuannya, agar arah pembangunan nasional 'on the right track' dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NRI 1945," kata Karyono kepada Tribunnews, Jumat (15/10/2021).

"Dalam perspektif itulah mengapa sosok Megawati dipercaya menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN," tambahnya.

Karyono mengatakan, memang tidak dipungkiri, masih ada perbedaan mazhab di sejumlah kalangan.

Baca juga: Penetapan Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN Disebut Sudah Sesuai Kaidah Hukum

Ada pihak yang berpandangan bahwa ilmu pengetahuan itu netral, berdiri sendiri tidak ada hubungannya dengan urusan politik negara dan falsafah bangsa.

Karyono mengatakan, pandangan tersebut terlalu sempit dan lebih dari itu, justru berpotensi menciptakan keterasingan (alienasi) antara pengetahuan dengan kehidupan manusia dan keadilan sosial.

Menurutnya, ilmu pengetahuan harus mengabdi kepada kemanusiaan. Sebagaimana yang dikatakan Sukarno, saat penganugerahan gelar doktor kehormatan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1951.

"Sukarno menyatakan, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidup manusia, atau praktiknya bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan," ungkapnya.

Baca juga: 10 Anggota Dewan Pengarah BRIN Resmi Dilantik Jokowi, Megawati Soekarnoputri Jadi Ketua

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas