Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Ini Jawaban Gus Yahya saat Ditanya Soal Sindiran Yenny Wahid ke Ketua Umum PKB Cak Imin

Gus Yahya menanggapi ketegangan antara putri Gus Dur, Yenny Wahid dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Ini Jawaban Gus Yahya saat Ditanya Soal Sindiran Yenny Wahid ke Ketua Umum PKB Cak Imin
Tribunnews.com/Naufal Lanten
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Tsaquf atau Gus Yahya. Menurut Gus Yahya, konflik antara Yenny Wahid dan Cak Imin bukan urusan dari PBNU. 

Namun, Yenny cukup tahu bahwa perilaku politik yang dijalankan belum berkembang.

Dia menganggap perilaku itu muncul dari ego sehingga menganggap halal segala cara.

"Kita (PKB) belum tahu siapa yang dapat nominasi (untuk capres)."

"Sekarang ini kan yang populer belum tentu bisa dicalonkan."

"Desember-Januari ketika ada nominasi yang jelas, baru kita bisa menentukan pilihan," kata putri mantan presiden RI Abdurrahman Wahid itu. 

PKB Gus Dur

Yenny Wahid, putri kedua KH Abdurrahman Wahid itu, menegaskan dirinya bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa Gus Dur.

Berita Rekomendasi

PKB saat ini dipimpin Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Di masa lalu, Gus Dur merupakan Ketua Dewan Syuro PKB.

PKB beberapa kali mengalami konflik internal dan konflik kepengurusan.

Belakangan, ramai isu Yenny Wahid dikaitkan kembali dengan PKB Muhaimian.

Yenny pun dikonfirmasi mengenai hal itu.

“Ha-ha-ha-…Memang begitu (PKB Gus Dur bukan PKB Cak Imin-red),” kata Yenny menjawab Kompas.TV, Rabu (22/6/2022).

Jawaban dari Yenny Wahid diawali dengan sebuah tawa lewat pesan singkat.

Yenny Wahid sendiri pernah bikin partai.

Terkait sikap Yenny Wahid yang menegaskan dirinya bukan bagian dari PKB, pengamat Politik Islam dari The Political Literacy, Muhammad Hanifuddin, menyatakan sebenarnya jika Yenny Wahid dan Cak Imin bersatu maka  elektabilitas PKB bisa naik lagi.

Bahkan disebut, idealnya PKB mengupayakan betul rujuk dengan Yenny Wahid.

“Untuk meningkatkan soliditas suara PKB, idealnya Cak Imin mengupayakan rujuk dengan Mbak Yenny,” ungkapnya, Rabu  (22/6/2022) malam.

“Hanya saja, hal ini sulit dilakukan. Dan cenderung keduanya tidak menginginkannya,” imbuhnya.

Dalam survey Litbang Kompas terbaru yang diterbitkan Juni 2022, elektabilitas PKB memang turun, meskipun kecil.

PKB pada survei litbang Kompas Januari elektabilitasnya 5,5 persen (Januari), dan pada juni ini menjadi 5,4 persen.

Bahkan, nama Cak Imin sendiri tidak masuk dalam 10 besar capres.

Survei Litbang Kompas ini dilakukan melalui tatap wawancara muka yang diselenggarakan 26 Mei-4 Juni 2022, dengan responden sebanyak 1.200 orang dan dipilih secara acak.

Menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi dengan tingkat kepercayaan 95 persen, margin error penelitian kurang lebih 2,8 persen.

Idealnya Bersatu

Peneliti PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama menilai harusnya Cak Imin  bersatu dengan Yenny Wahid demi membesarkan PKB.

Meskipun begitu, kata Virdika, hal itu memang sulit dilakukan.

Penulis buku "Menjerat Gus Dur" (2019) tentang politisi istana di balik kejatuhan Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid itu menyebut, jika keduanya bersatu tentu bisa mengerek elektabilitas partai PKB untuk pemilu 2024. 

“Idealnya tentu saja bisa menyatu, baik Cak Imin maupun Yenny Wahid,” ujar Virdika kepada Kompas.TV pada Kamis (23/6/2022).

Salah satu yang bikin bersatu adalah soal kesepahaman membesarkan PKB, partai yang didirikan oleh Gus Dur.

Yenny Wahid, menurut Virdika, bisa membantu PKB yang elektabilitasnya cenderung tidak naik siginifikan atau bahkan stagnan.

Yenny Wahid bagi Virdika bisa membuat publik mengingat Gus Dur dan ini penting bagi PKB. 

“Gus Dur sebagai salah satu peletak dasar PKB tentu punya kharismatik dan pencapaian yang besar selama memimpin PKB,” imbuhnya.

“Cak Imin pun punya kemampuan untuk membesarkan PKB, khususnya capaian dalam dua pemilu terakhir,” sambungnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas