Tribun

Ketua Komisi VII DPR: Indonesia Harus Segera Masuk ke Energi Baru Terbarukan (EBT)

Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto mengatakan, bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam saat ini menjadi masalah serius

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Ketua Komisi VII DPR: Indonesia Harus Segera Masuk ke Energi Baru Terbarukan (EBT)
Ist
Seminar bertema Kemerdekaan Energi di Tengah Krisis Global Diskusi menghadirkan narasumber yaitu Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana; Pengamat Energi yang juga Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro; Senior Vice President Research Technology and Innovation PT Pertamina (Persero) Oki Muraza; dan Subkoordinator Pengatur Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Christian Tanuwijaya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto mengatakan, bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam saat ini menjadi masalah serius sebab menimbulkan banyak dampak negatif bagi kehidupan di bumi.

Maka itu, Indonesia harus segera masuk ke energi baru terbarukan (EBT) karena memiliki potensi cukup besar.

Pemerintah harus sosialisasi sehingga mendapat dukungan masyarakat dan harus meningkatkan penguasaan teknologi.

“Indonesia harus masuk energi baru terbarukan. Energi fosil problemnya sangat serius. Fosil terdiri dari minyak, gas dan batu bara keberadaanya sangat terbatas,” tutur Sugeng saat seminar Kemerdekaan Energi di Tengah Krisis Global di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Baca juga: Imbas Inflasi, Utang Energi Inggris Membengkak Tembus Rekor Tertinggi

Selain Sugeng, hadir Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana; Pengamat Energi yang juga Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro; Senior Vice President Research Technology and Innovation PT Pertamina (Persero) Oki Muraza dan Subkoordinator Pengatur Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Christian Tanuwijaya.

Dikatakan Segang, saat ini cadangan minyak Indonesia terus menipis setiap tahunnya.

Pada tahun 2021, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan minyak Indonesia sebesar 3,95 miliar barel. Cadangan itu terdiri dari 2,25 miliar cadangan terbukti dan 1,7 miliar cadangan potensial.

“Cadangan seperti ini tinggal 10 tahun saja. Minyak sangat rentan dengan fluktuasi politik dunia,” ujar Sugeng.

Saat ini produksi minyak berkisar angka 700 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhannya mencapai di atas 1 juta barel per hari.

Menurut keterangan Kementerian ESDM, cadangan minyak bumi di Indonesia akan tersedia hingga 9,5 tahun mendatang, sementara umur cadangan gas bumi Indonesia mencapai 19,9 tahun.

Baca juga: Ketua DPR Minta Pemerintah Segera Batasi Pembelian BBM Bersubsidi

Sementara pembakaran batu bara, ketika dibakar elepaskan sulfur dalam bentuk gas belerang dioksidan (SO2).

Juga menghasilkan partikel katbon hitam dalam jumlah banyak. Itu sebabnya batu bara bahan bakar paling kotor.

Pembakaran batu bara selama satu abad terakhir telah menyebabkan bumi menjadi lebih panas. Kondisi tersebut, pemanasan global, membuat perubahan iklim mengganggu stabilitas alam.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas