Tuding SBY Playing Victim soal Pemilu 2024, Demokrat Singgung Kader PDIP Dulu Nangis Saat BBM Naik
Menyikapi hal itu, Demokrat meminta kepada Aria Bima untuk mengingat kembali kondisi di mana saat era pemerintahan SBY berlangsung.
Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Hasanudin Aco
Laporan Reporter Tribunnews.com, Rizki Sandi Saputra
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Demokrat merespons pernyataan politikus senior PDIP Aria Bima yang menyatakan kalau Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah melakukan strategi playing victim untuk Pemilu 2024.
Playing victim yang dimaksud yang perihal pidato SBY dalam Rapimnas Demokrat yang mengatakan kalau ada upaya curang dalam Pemilu mendatang.
Menyikapi hal itu, Demokrat meminta kepada Aria Bima untuk mengingat kembali kondisi di mana saat era pemerintahan SBY berlangsung.
Baca juga: PDIP Sebut SBY Masih Gunakan Strategi Lama Suka Playing Victims
Di mana saat itu kata Juru Bicara sekaligus Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) Demokrat, Herzaky Mahendra Putra ada kader PDIP yang menangis saat Pemerintahan SBY menaikkan harga BBM.
"Yang suka playing victim itu mungkin teman-teman Aria Bima yang pakai adegan menangis seakan-akan korban dan dizalimi ketika BBM dinaikkan di era Pemerintahan Bapak SBY," kata Herzaky dalam keterangan tertulisnya kepada awak media, Selasa (20/9/2022).
Padahal saat itu kata Herzaky, kondisi harga minyak dunia memang sedang naik tinggi bahkan mencapai 150 dollar AS per-barelnya.
Namun kata dia, di saat sekarang partai yang dinaungi Aria Bima sedang memimpin, harga BBM justru dinaikkan yang di mana kondisinya harga minyak dunia sedang turun.
"Ketika teman-teman Aria Bima berkuasa, dan kader PDIP jadi Presiden, BBM malah terus dinaikkan, padahal harga minyak dunia sedang turun, bahkan pernah di angka 32-35 usd per barrel," ucap Herzaky.
Atas kondisi itu, Herzaky menyatakan, pihaknya menduga kalau PDIP saat pemerintahan SBY hanya berupura-puat peduli atas keprihatinan rakyat.
Herzaky bahkan menilai, kondisi saat itu dimanfaatkan untuk berpura-pura menjadi korban alias playing victim saat BBM naik.
"Ternyata, teman-temannya malah ketika memimpin negeri ini menaikkan harga bbm di saat harga minyak dunia sedang turun dan ketika rakyat Indonesia sedang kesusahan benar, sulit makan, sulit cari kerja, pasca pandemi," beber dia.
Herzaky menyatakan, dalam kondisi saat ini, yang seharusnya dilakukan Aria Bima yakni membantu peran Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan kader PDIP dalam menangani kondisi perekonomian saat ini.
Bukan malah mencampuri urusan Partai lain dalam hal ini termasuk Demokrat. Sebab pernyataan SBY di Rapimnas kata dia, hanya untuk mengingatkan para kader Demokrat perihal kondisi pemilu di masa mendatang.