Tribun

Formappi: Bila Rapat Komisi I DPR Terbuka Publik Bisa Tahu Jika Ada Disharmoni TNI

Menurut Lucius, rapat yang berlangsung terbuka, bisa mengetahui harmonis atau tidak di internal kementerian/lembaga, karena soal hubungan

Penulis: chaerul umam
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Formappi: Bila Rapat Komisi I DPR Terbuka Publik Bisa Tahu Jika Ada Disharmoni TNI
ist
Lucius Karus. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi I DPR RI menggelar Rapat Kerja (Raker) secara tertutup terkait Rancangan Kerja dan Anggaran (RKA) Kementerian Pertahanan/TNI tahun 2023 pada Senin (26/9/2022).

Raker terkait RKA Kemhan/TNI pada hari ini gang berlangsung tertutup tersebut dikritisi peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus

Menurut dia, rapat yang berjalan terbuka, memungkinkan publik mengetahui kondisi internal kementerian/lembaga, dan itu terbukti dari pernyataan Effendi Simbolon terkait disharmoni di institusi TNI.

"Dengan rapat terbuka, publik bisa berpartisipasi mengikuti jalannya rapat. Publik jadi tahu ada persoalan disharmoni di internal TNI," kata Lucius kepada wartawan, Senin (26/9/2022).

Lucius menilai selalu ada manfaat dibalik desakan rapat terbuka di DPR yaitu agar publik mengetahui apa yang dibicarakan karena masyarakat berhak tahu apa yang terjadi. 

Dia mencontohkan, rapat terbuka Komisi I DPR pada Senin (5/9) ternyata diketahui ada disharmoni di TNI, salah satunya yaitu ketidakhadiran Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Dudung Abdurachman.

"Urusan TNI, urusan pertahanan dan keamanan juga urusan publik," ucapnya.

Menurut Lucius, rapat yang berlangsung terbuka, bisa mengetahui harmonis atau tidak di internal kementerian/lembaga, karena soal hubungan antar-lembaga seperti TNI, juga terkait dengan kinerja lembaga yang seharusnya memang jadi urusan DPR untuk mengawasi.

Baca juga: Hadiri Rapat Komisi I DPR, Prabowo Subianto Duduk di Antara Panglima TNI dan KSAD 

Lucius menilai kalau bicara urusan harmonis atau tidaknya relasi pejabat di berbagai institusi, maka memang sudah seharusnya jadi tugas DPR. 

"Jadi jangan justru rapat ditutup agar pembicaraan soal relasi antar pejabat yang memengaruhi kinerja justru ditutup. Komisi I mau main rahasia-rahasiaan untuk kepentingan siapa?" ujarnya.

Lucius menilai, kebiasaan Komisi I DPR menawarkan opsi tertutup dan terbuka sebelum rapat, memberikan kesan Komisi I tidak punya komitmen sebagai wakil rakyat yang harusnya punya kepentingan membuka ruang partisipasi bagi rakyat dalam proses pembahasan apapun dengan mitra kerja seperti Kemhan dan TNI.

Karena itu menurut dia, seharusnya Komisi I DPR melakukan semua rapat secara terbuka dan jika dalam proses pembahasan menyangkut isu rahasia negara, baru rapat ditutup sejenak sampai pembicaraan itu berakhir. 

"Ketika pembahasan rahasia sudah selesai, langsung dibuka kembali. Sesungguhnya bukan jalannya lagi rapat-rapat di DPR termasuk rapat anggaran dilakukan secara tertutup. Apa sih yang sebegitu rahasianya dari persoalan anggaran Kemhan dan TNI sampai harus ditutup terus?" ucapnya.

Menurut dia, jangan jadikan alasan urusan strategis pertahanan sebagai alasan untuk menutup akses publik terhadap program Kemhan.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas