Tribun

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Cerita Doni, Saksi Mata Korban Tragedi Kanjuruhan Berusaha Selamatkan Anaknya dari Gas Air Mata

Dalam situasi seperti itu, ia melihat banyak yang sudah tergolek lemas ketika ia turun. Semua orang seperti kebingungan, tuturnya.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Cerita Doni, Saksi Mata Korban Tragedi Kanjuruhan Berusaha Selamatkan Anaknya dari Gas Air Mata
KOMPAS.com/SUCI RAHAYU
Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai kericuhan penonton yang terjadi seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 bertajuk derbi Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam. Berikut fakta-fakta terkait tembakan gas air mata di Kerusuhan Stadion Kanjuruhan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Keurusuhan yang terjadi usai laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022) malam, meninggalkan duka bagi para pendukung Arema atau Aremania.

Doni (43 tahun), seorang Aremania dari wilayah Bareng, Kota Malang, mengisahkan kronologi kerusuhan itu.

Kericuhan yang menyebabkan sedikitnya 131 orang tewas tersebut membuatnya sedih.

Ia tidak pernah memikirkan tragedi seperti itu akan terjadi.

Kengerian pun masih dirasakan Doni hingga kini.

Baca juga: Wagub Jatim Sampaikan Data Terbaru Korban Kerusuhan di Kanjuruan Sesuai Data Dinkes Malang

Ia menceritakan selama pertandingan derbi Jatim tersebut sebenarnya tidak ada insiden apa pun.

Namun, kengerian itu terjadi usai pertandingan.

Doni mengaku melihat dengan kepalanya sendiri orang-orang berteriak minta tolong di mana-mana.

Para suporter, kata dia, panik karena tembakan gas air mata.

"Kejadiannya itu setelah sepak bola habis. (Saat pertandingan) ya tidak ada, ya kalau ada agak berkelahi, ada orang yang mabuk-mabuk, biasa, lalu (teriak) sama-sama Arema, ya selesai. Baru setelah (laga usai) itu suporter turun ke lapangan," paparnya dalam Breaking News Kompas TV, Minggu (2/9/2022).

Ia bercerita, dari tribun 14 tempatnya duduk, tidak ada yang turun ke lapangan.

Lalu ia melihat ada tembakan gas air mata.

Doni mendengar seperti ada ledakan di sana dan membuat suporter yang masih ada dalam stadion, berhamburan panik berusaha keluar stadion.

Begitu pula Doni yang saat itu membawa anak-anak. Yang ada dalam pikirannya cuma menyelamatkan anak yang ia cintai.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas