Tribun

Dikira Hanya Luka Ringan, Kakak Temukan Rafi Sudah Menjadi Jasad di Kamar Jenazah

Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur ternyata memakan korban sebanyak 14 siswa di Malang.

Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Dikira Hanya Luka Ringan, Kakak Temukan Rafi Sudah Menjadi Jasad di Kamar Jenazah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sejumlah pencinta sepak bola menggelar aksi tabur bunga dan 1.000 lilin atas tragedi kematian sejumlah suporter, di depan Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (2/10/2022) malam. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk solidaritas atas kematian ratusan suporter pascapertandingan sepak bola Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada Sabtu (1/10/2022) malam. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM -- Sumiarsih berusaha tegar di hadapan para pencari berita. Wanita ini sangat sedih salah satu buah hatinya menjadi korban tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Putranya, Ibnu Muhammad Rafi, menjadi salah satu korban dari 125 Aremania yang tewas usai laga Arema vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (2/10/2022).

Rai yang siswa SMAN 10 salah satu korban yang meninggal diduga karena gas air mata yang ditembakkan polisi.

"Rafi di kelas ekonomi. Sama kakaknya sudah mau dibelikan di kelas VIP tapi ia minta di kelas ekonomi karena bersama teman-temannya," kata ibu tiga anak ini.

Baca juga: Tragedi Arema vs Persebaya: Pengamat Sepak Bola Beri Perbedaan Pertandingan Sore dan Malam Hari

Sampai kemudian ada kerusuhan di stadion, kakak Rafi menelpon ibunya dan mengabarkan tentang kondisi di stadion yang rusuh parah.

Saat itu pukul 23.00 WIB. Kakaknya mencari Rafi dan tidak tahu kemana. Ditelpon juga tidak diangkat.

Kakaknya minta ibunya menelpon Rafi. Tapi kemudian ada nomer tidak dikenal masuk ke nomer HP-nya dan tidak ia angkat.

Ia memutuskan menelpon HP Rafi. "Sekali saya telpon, langsung diangkat. Tapi yang mengangkat perempuan," jelas Cece.

Wanita berhijab ini menanyakan mengapa HP anaknya kok dijawab suara perempuan.

Perempuan itu bertanya apakah ia ibunya Rafi. Ia menjawab iya.

Lalu ia diminta ke RSI Gondanglegi segera. Karena ia di Sawojajar dan jauh dari Gondanglegi, ia minta dua anaknya mencari Rafi di RSI Gondanglegi. Keluarga menyangka awalnya Rafi hanya dirawat.

Tapi ketika dicari di ruang perawatan tidak ada. Kemudian petugas RS menyarankan ke kamar jenazah. Kakaknya mencari kesana.

"Awalnya ya tidak menemukan. Karena saat dibuka kantong jenazah sampai leher kok beda," terangnya.

Hal ini karena korban tragedi ini terutama yang kena gas airmata, wajahnya menghitam dan melembung.

Baca juga: Sanksi PSSI untuk Arema FC Imbas Tragedi Kanjuruhan: Pertandingan Tanpa Penonton, Denda Rp 250 Juta

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas