Tribun

Presidensi G20

Pakar Ekonomi: Kesepakatan Antarnegara di Pertemuan G20 Harus Dibuat untuk Antisipasi Krisis Pangan

Indonesia perlu meningkatkan fungsi kerja sama bilateral dengan negara-negara tetangga saat pertemuan G20 di Bali 15-16 November 2022.

Editor: Dewi Agustina
zoom-in Pakar Ekonomi: Kesepakatan Antarnegara di Pertemuan G20 Harus Dibuat untuk Antisipasi Krisis Pangan
Istimewa
Indonesia perlu meningkatkan fungsi kerja sama bilateral dengan negara-negara tetangga saat pertemuan G20 di Bali 15-16 November 2022 untuk menjaga ketersediaan pangan nasional dibalik ancaman krisis pangan global. Foto Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bersama Sri Sultan HB X menghadiri peringatan Hari Tani Nasional 2022 di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia perlu meningkatkan fungsi kerja sama bilateral dengan negara-negara tetangga saat pertemuan G20 di Bali 15-16 November 2022 mendatang.

Hal ini penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional dibalik ancaman krisis pangan global.

"Kesepakatan antarnegara harus dibuat untuk mengantisipasi krisis pangan ke depan. Fungsi kerja sama bilateral harus ditingkatkan lagi," kata Pakar Ekonomi dan Pertanian Universitas Padjadjaran, Ronnie S Natawidjaja, Kamis (3/11/2022).

Ronnie menjelaskan, kerja sama bilateral itu bisa diwujudkan dalam sistem barter. Masing-masing negara memberikan yang terbaik yang dimiliki.

Baca juga: Tiba di Bali, Sebanyak 300 Wuling Air Ev Siap Muluskan Helatan KTT G20

"Misal, Indonesia banyak produksi buah, lalu Australia banyak memproduksi gandum. Ini bisa saling tukar, barter. Jadi, stok (pangan) aman, dan harga pun bisa dikontrol," jelas Ronnie.

Ronnie mengambil contoh komoditas kedelai. Dikatakannya, faktor geografis, yaitu penyinaran matahari, membuat produksi kedelai nasional tidak mampu mengimbangi produksi kedelai dari China.

"Kedelai kita itu wangi dan bulirnya besar. Tapi butuh penyinaran yang lama. Penyinaran bisa dibantu oleh penggunaan lampu di green house, tapi dijualnya jadi mahal nanti. Sudah kita pakai kedelai dari China, lalu kita kasih apa yang China butuhkan yang ada di kita. Itu namanya memaksimalkan potensi kerja sama bilateral," ujarnya.

Ronnie juga mencontohkan komoditas gandum yang bisa didapat dari Australia. Menyusul krisis yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, pasokan gandum ke Indonesia menjadi terhambat.

"Harganya pun naik 35 persen. Dan sepertinya akan naik lagi. Kita bisa minta Australia untuk support kebutuhan gandum kita," pungkasnya.

Terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menekankan pentingnya kolaborasi global untuk mengatasi krisis pangan yang kini mengancam banyak negara di dunia.

Kolaborasi memungkinkan memitigasi dan mengatasi triple krisis: krisis energi, pangan, dan keuangan.

Baca juga: Jokowi akan Telepon 3 Pemimpin Negara yang Belum Memastikan Kehadirannya di KTT G20

Syahrul menjelaskan, sebagai bagian dari komunitas global, G20 berkomitmen mendukung peran krusial dari sektor pertanian dalam menyediakan pangan dan gizi bagi semua orang.

Juga menjamin pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam berbagai kesempatan, Syahrul berulangkali menegaskan bahwa kunci mengatasi krisis pangan global adalah kebersamaan.

"Tidak boleh ada negara yang terlewatkan dan tertinggal, kolaborasi adalah kunci untuk mengatasi tantangan saat ini dan di masa datang," tegas Syahrul.

tidak bisa diproduksi secara maksimal. Sebaliknya, Indonesia mesti meningkatkan potensi yang ada untuk kemudian dijadikan komoditas unggulan.(Willy Widianto)

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas