Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Pengamat: Penyelidikan Kasus Penembakan di Semarang Harus Dilakukan Secara Ilmiah

Bambang menilai perlunya audit investigasi kasus penembakan di Semarang yang dilakukan oleh oknum polisi.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Pengamat: Penyelidikan Kasus Penembakan di Semarang Harus Dilakukan Secara Ilmiah
Kompas.com Titis Anis/via TribunJateng.com
Aipda Robig Zaenudin (kiri), pelaku penembakan siswa SMKN 4 Semarang, GRO (17) (kanan). Pengamat Kepolisian dari ISESS Bambang Rukminto menilai perlunya audit investigasi kasus penembakan di Semarang yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap remaja. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Kepolisian dari ISESS Bambang Rukminto menilai perlunya audit investigasi kasus penembakan di Semarang yang dilakukan oleh oknum polisi terhadap remaja.

Menurutnya juga harus dilakukan scientific crime investigation yang bisa dipertanggunjawabkan dan objektif.

“Bukan malah menutup-nutupi dan membuat framing pada korban yang menyatakan korban ini pelaku tawuran,” ucap Bambang kepada wartawan, Rabu (4/12/2024).

Dia menyayangkan framing tersebut terlebih disamlaikan oleh seorang kepala satuan wilayah yang seharusnya sebelum memberikan pernyataan harus mengkaji lebih dalam dan melakukan penyelidikan yang komprehensif terkait apa yang sebenarnya terjadi.

Kesalahan yang dilakukan individu jangan sampai ditarik menjadi masalah institusi.

“Penyelidikan terkait kasus penembakan itu harus dilakukan secara ilmiah dengan alat bukti yang akurat, gelar olah TKP, gelar perkara, maupun forensik misalnya, sehingga bisa ditemukan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, bukan malah membuat pernyataan-pernyataan yang membuat blunder sehingga mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian sendiri,” urainyaZ

Berita Rekomendasi

Terkait penggunaan senpi oleh anggota perlu adanya evaluasi ulang, apakah perlu semua personel itu membawa senjata api.

Bambang memandang tidak harus demikian karena penggunaan senjata api ini berkaitan dengan potensi risiko yang dihadapi oleh personel di lapangan.

Kalau seseorang personel yang tidak menjalankan tugas terkait penanganan kriminal yang membahayakan atau penyelidikan terkait kejahatan yang membahayakan tentunya tidak diperlukan membawa senjata api berpeluru tajam seperti yang terjadi di Semarang.

Walhasil penggunaan senjata api berpeluru tajam itu bisa diminimalisasikan penggunaannya.

Diketahui insiden penembakan oleh oknum polisi terhadap seorang siswa terjadi pada Minggu (24/11/2024) dini hari di depan Alfamart Candi Penataran Raya, Ngaliyan, Kota Semarang.

Gamma ditembak di bagian pinggul oleh Aipda RZ karena diduga melakukan penyerangan terhadap polisi tersebut.

Akibat tindakan itu, Aipda RZ kini ditahan oleh Pengamanan Internal (Paminal) Propam Polda Jawa Tengah untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Korban, yang merupakan siswa kelas 11 Teknik Mesin SMKN 4 Semarang, dikenal sebagai siswa yang baik dan berprestasi.

Gamma adalah anggota Paskibraka SMKN 4 dan telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk memenangkan juara 3 di ajang Porsimaptar Oktober 2024.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas