Puskapol UI: Nostalgia Otoritarian Jadi Ancaman Serius bagi Demokrasi Indonesia
Menguatnya fenomena authoritarian nostalgia, atau rindu masa otoriter di Indonesia sebagai sinyal berbahaya bagi masa depan demokrasi.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Malvyandie Haryadi
“Generasi muda yang tumbuh dalam arus demokrasi justru jauh lebih kritis. Kita bisa lihat aksi-aksi demonstrasi beberapa tahun terakhir yang dilakukan oleh anak-anak muda, gerakan yang rimpang, tersebar, tetapi sikapnya jelas menolak pembalikan demokrasi,” jelasnya.
Menurut Hurriyah, generasi muda ingin memastikan demokrasi tetap menjadi komitmen bersama dan menolak segala bentuk manipulasi demokrasi melalui cara-cara legal maupun politik yang bersifat otokritik.
“Mereka ingin memastikan bahwa demokrasi tidak dikemas untuk kepentingan otoriter dengan bungkus prosedural,” ucapnya.
Para sarjana, lanjut Hurriyah, mengingatkan bahwa nostalgia otoritarian sangat berbahaya karena dapat menjadi pintu masuk erosi demokrasi.
Ia mencontohkan praktik politik uang saat Pemilu yang menjadi satu-satunya manfaat demokrasi yang dirasakan sebagian masyarakat.
“Nostalgia ini tumbuh karena rakyat hanya mendapatkan remah-remah kue demokrasi. Saat Pemilu dapat Rp100 ribu atau Rp50 ribu, lalu terasa menyenangkan. Di luar itu, masyarakat tidak pernah merasakan manfaat demokrasi,” kata Hurriyah.
“Akhirnya masyarakat kecewa. Politik tidak ditepati, manfaat demokrasi tidak dirasakan. Tidak heran jika kemudian sebagian publik menoleh ke masa lalu,” pungkasnya.