Ekonom: Integrasi MBG dengan Pangan Lokal Penting untuk Efektivitas dan Keberlanjutan Program
Tak hanya memperkuat ketahanan program, integrasi ini juga berpotensi menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terintegrasi dengan pangan lokal dinilai mampu menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus mendorong ekonomi daerah melalui rantai pasok petani dan peternak.
- Para ahli menilai pemanfaatan bahan pangan lokal, aman, dan bergizi penting untuk memastikan efektivitas program serta mendukung penurunan stunting.
- Dengan sasaran jutaan penerima, keberhasilan MBG bergantung pada pengelolaan yang terukur, evaluasi berkelanjutan, dan sinergi lintas sektor.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Integrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan potensi pangan lokal serta berbagai inisiatif strategis pemerintah, seperti program Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian, dinilai menjadi langkah krusial dalam menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus efektivitas pelaksanaan MBG.
Tak hanya memperkuat ketahanan program, integrasi ini juga berpotensi menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah.
Dengan mengandalkan rantai pasok dari peternakan rakyat dan komoditas pangan lokal, MBG tidak hanya memastikan pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan melalui sinergi kebijakan yang lebih efisien.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, MBG sebagai terobosan penting meskipun masih membutuhkan evaluasi dalam implementasinya.
“Menurut saya, MBG adalah ide yang revolusioner. Namun dalam pelaksanaannya masih perlu evaluasi agar manfaatnya benar-benar optimal,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Dikatakan Wijayanto, program MBG memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, kajian lanjutan tetap diperlukan untuk mengukur secara lebih tepat dampak jangka panjang dari program tersebut.
Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diakses, segar, dan memiliki harga relatif stabil menjadi kunci keberlanjutan MBG.
Jika implementasi di tingkat daerah dapat dilakukan secara masif, terukur, dan tepat sasaran, maka peluang keberhasilan program dalam mencapai tujuan yang diharapkan akan semakin besar.
MBG sebagai Intervensi Spesifik Pemenuhan Gizi
Dari sisi pemenuhan gizi, dr. Agus Triwinarto, SKM., MKM, Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan, menilai pemanfaatan pangan lokal sangat penting untuk menjamin keberlangsungan pasokan harian MBG.
Baca juga: Di Balik Pembagian MBG di Sukoharjo, Peran Kader Posyandu Jadi Penghubung Layanan Kesehatan Warga
“Dengan peningkatan keragaman pangan lokal serta penjaminan keamanan dan higienitas pangan, MBG yang diberikan akan sesuai dengan kebutuhan kecukupan gizi masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kombinasi pengawasan keamanan pangan, higienitas, keragaman pangan bernutrisi, serta ketepatan sasaran program akan berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan.
Saat ini, desain program MBG menyasar sekitar 55,1 juta penerima manfaat setiap hari.
Program ini menjadi bagian dari intervensi pemerintah dalam pemenuhan gizi nasional, khususnya untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045 serta menekan angka stunting.