Great Institute Respons Kritik LPEM UI soal Data BPS: Jangan Dibaca Secara Linier
LPEM UI menyoroti dugaan inkonsistensi data PDB Triwulan I-2026 karena manufaktur tumbuh 5,04 persen.
Ringkasan Berita:
- LPEM UI menyoroti dugaan inkonsistensi data PDB Triwulan I-2026 karena manufaktur tumbuh 5,04 persen, sementara sektor listrik, gas, dan air minus 0,99 persen.
- Peneliti GREAT Institute menilai kontraksi listrik dipengaruhi Idulfitri, gangguan pasokan gas, dan berakhirnya diskon tarif listrik.
- Pertumbuhan manufaktur disebut tetap kuat karena dukungan captive power industri smelter dan kenaikan inventori nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polemik terkait data pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 disorot Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, karena dugaan inkonsistensi dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Dalam special report bertajuk Indonesia GDP Growth, First Quarter 2026: Behind the 5,61 persen Headline, LPEM UI mempertanyakan keselarasan antara pertumbuhan sektor industri pengolahan sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dengan sektor pengadaan listrik, gas, dan air yang justru terkontraksi 0,99 persen.
Penulis laporan tersebut, Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky, menilai kondisi tersebut sulit dijelaskan secara logis karena industri manufaktur merupakan konsumen listrik terbesar nasional.
Namun, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adhamaski Pangeran, membantah anggapan adanya kejanggalan data tersebut.
Ia menilai kontraksi sektor listrik, gas, dan air masih sangat mungkin terjadi meski industri manufaktur tumbuh positif.
“Di Triwulan I-2026, ada beberapa faktor yang menjelaskan kontraksi sektor listrik, gas, dan air tanpa harus bertentangan dengan pertumbuhan manufaktur,” kata Adhamaski kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, faktor pertama berasal dari pola konsumsi listrik saat periode Idulfitri. Aktivitas bisnis dan perkantoran yang menurun selama libur Lebaran disebut otomatis menekan konsumsi listrik nasional.
“Secara historis konsumsi listrik memang cenderung menurun pada periode Idulfitri karena aktivitas komersial dan bisnis berhenti sementara selama libur hari raya,” ujarnya.
Selain faktor musiman, Adhamaski menyebut turbulensi geopolitik di Timur Tengah juga sempat mengganggu distribusi komoditas gas dunia. Dampaknya, pemerintah melakukan penyesuaian prioritas distribusi gas domestik.
“Terbatasnya pasokan gas bumi domestik dan penyesuaian kuota gas industri turut menekan industri energi-intensif seperti keramik, kaca, dan semen. Namun dampaknya terhadap manufaktur nasional relatif terbatas,” jelasnya.
Ia juga menyinggung normalisasi konsumsi listrik setelah berakhirnya stimulus diskon tarif listrik pada Triwulan I-2025.
“Ketika kebijakan diskon listrik tidak kembali diterapkan pada Triwulan I-2026, maka secara statistik terjadi normalisasi dari sisi permintaan listrik,” katanya.
Lebih lanjut, Adhamaski menilai terdapat perbedaan konsep dalam membaca data sektor listrik dan manufaktur di struktur PDB nasional.
Menurutnya, nilai tambah sektor listrik dihitung berdasarkan margin produsen listrik, bukan semata volume listrik yang disalurkan.
“Kontraksi nilai tambah sektor listrik tidak otomatis berarti volume fisik listrik yang disalurkan juga mengalami kontraksi pada tingkat yang sama,” ujar Adhamaski.