Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Buruh Temui Wamenaker, Waspadai Ancaman PHK dan Desak Perlindungan Lapangan Kerja

Serikat buruh tembakau desak Kemnaker evaluasi regulasi lintas kementerian yang dinilai ancam pekerja SKT dan petani.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Buruh Temui Wamenaker, Waspadai Ancaman PHK dan Desak Perlindungan Lapangan Kerja
HO/IST
SERIKAT PEKERJA - Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman–Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) saat audiensi dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Kemnaker), Afriansyah Noor, di Kantor Kemnaker, Jakarta/HO 

“Ternyata di tanggal 2 Oktober aku dihubungi HRD untuk ketemu dan esok harinya, pada tanggal 3, aku menerima kabar bahwa itu hari terakhirnya bekerja,” ungkap Dewi.

Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi Dewi. Berbagai beban pikiran membuatnya sempat terpukul, terlebih ia juga memikirkan masa depan anak pertamanya yang masih kecil.

Rasa sedih, tangisan, hingga perasaan tidak menentu sempat menyelimuti dirinya setelah di-PHK. Ia bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.

“Yang paling berat tuh perasaan menyalahkan diri sendiri, kayak ‘Apa kerja saya kurang bagus? Apa saya ada salah?’. Tapi pikiran kayak gini memang hanya bertahan seminggu. Setelahnya saya mikir, bukan saya yang rugi tapi perusahaannya,” ujar Dewi.

Hal yang paling berat bagi Dewi adalah kehilangan rutinitas kerja yang telah ia jalani selama tujuh tahun. Kondisi itu membuatnya merasa hampa karena tidak lagi memiliki aktivitas pekerjaan seperti sebelumnya.

Namun, ia tidak berhenti di titik tersebut. Dewi mencoba bangkit dengan mengikuti berbagai pelatihan dan melamar pekerjaan ke sejumlah perusahaan, meski belum membuahkan hasil.

Pada akhirnya, ia bersama suaminya memilih membuka usaha jasa decluttering, yaitu layanan membantu pelanggan menyortir dan menata barang agar lebih rapi dan terorganisir. Ide tersebut muncul dari pengalaman pribadi Dewi dalam mengelola barang di rumah.

Rekomendasi Untuk Anda

Setelah hampir satu tahun berjalan, usaha tersebut kini telah berkembang dan memiliki 11 karyawan serta melayani pelanggan di wilayah Jabodetabek.

“Dari pengalaman pribadi karena kita sering beres-beres rumah tapi tetap berantakan. Banyak barang enggak terpakai dan akhirnya kita coba decluttering dan dikemas dalam sebuah konten publik,” jelas Dewi.

Kini, usaha tersebut terus berkembang dan menjadi sumber penghidupan baru bagi Dewi setelah terdampak PHK.

(Kompas.com/Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas