Tribun

Harga Kripto Anjlok

Pengamat: Kripto Luna Aset Berisiko, Ditinggal Investor saat The Fed Naikkan Suku Bunga

Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, terdapat aset kripto yang turun sangat dalam sejak 7 Mei 2022, yakni Terra Luna.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Sanusi
zoom-in Pengamat: Kripto Luna Aset Berisiko, Ditinggal Investor saat The Fed Naikkan Suku Bunga
IST
Ilustrasi aset kripto 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, terdapat aset kripto yang turun sangat dalam sejak 7 Mei 2022, yakni Terra Luna.

Harga koin besutan perusahaan kripto dari Korea Selatan, Terraform Labs tersebut anjlok sekira 96 persen dari level 100 dolar Amerika Serikat (AS) menjadi nol koma sekian dolar saja.

"Luna token digarap Terraform Labs perusahaan kripto dari Korea Selatan, yang digawangi Do Kwon. Tidak cuma Luna token, UST atau Stablecoin dari Terra juga mengalami guncangan, yang harusnya 1 dolar AS, ini malah turun cukup dalam, sekarang nilainya 0,5 dolar, bahkan sempat menyentuh 0,2 dolar," ujarnya mengutip YouTube About Money, Minggu (15/5/2022).

Baca juga: Kripto Terra Luna Pernah Duduki Posisi 6 Terbesar Dunia, Kini Sudah Tidak Berharga

Menurut dia sebagai Stablecoin, UST ini nilainya 1 dolar AS seperti lainnya, dan ini kelihatannya berkaitan antara kejatuhan Luna coin dan penurunan Stablecoin-nya Terra UST.

"Apa yang menyebabkan Luna token dan aset kripto lain turun dalam saat ini? Pertama, yaitu sentimen besar yang terjadi di pasar adalah perubahan kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed. Jadi, The Fed telah memberikan indikasi akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya secara lebih agresif tahun ini, dari sebelumnya sekira nol sampai 0,25 persen," kata Ariston.

Baca juga: Harga Kripto LUNA Rontok, Investor Rugi, Begini Kondisi Tren Kripto di Tengah Keruntuhan Pasar

Perubahan sikap Bank Sentral AS ini dengan menaikkan suku bunga hingga mencapai 3 persen membuat investor pasar keuangan berpikir ulang.

"Investor menyesuaikan portofolio mereka dengan sementara waktu keluar dari aset-aset berisiko dan memindahkan asetnya ke dolar AS. Kalau tingkat suku bunga Bank Sentral AS naik berarti imbal hasil dolar AS juga naik, dolar AS dikenal sebagai aset aman, sehingga risikonya rendah," pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas