Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Otomotif
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ketua Umum IMI: Jepang Berpeluang Besar Garap Pasar Kendaraan Listrik di Indonesia

Saat ini Jepang belum serius mengembangkan kendaraan listrik mereka di Indonesia lantaran hal itu akan membunuh industri kendaraan konvensional

Ketua Umum IMI: Jepang Berpeluang Besar Garap Pasar Kendaraan Listrik di Indonesia
TRIBUNNEWS/HARI DARMAWAN
Ketua IMI Bambang Soesatyo memamerkan Hyundai Ioniq yang jadi kendaraan operasional PB IMI, Minggu (21/2/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hari Darmawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo berpendapat, industri otomotif Jepang memiliki potensi besar memasarkan produk kendaraan listriknya di Indonesia.

Menurutnya, pabrikan Jepang juga sangat memungkinan membangun pabrik perakitan kendaraan listrik di Indonesia untuk memasok pasar Asia Pasifik.

"Indonesia negara berpenduduk 200 jutaan ini, masyarakatnya banyak dari kalangan menengah. Ini berpotensi untuk menghadirkan produk kendaran listrik dari Jepang ke Indonesia," ujar Bambang dalam wawancara dengan Tribunnews, Minggu (21/2/2021).

Ia juga mengungkapkan, saat ini Jepang belum serius mengembangkan kendaraan listrik mereka di Indonesia lantaran hal itu akan membunuh industri kendaraan konvensionalnya di sini.

Baca juga: Pengalaman Ketua IMI Bambang Soesatyo Gunakan Mobil Listrik, Lebih Praktis dan Irit

"Kami tentu harapkan produsen Jepang mengembangkan industri kendaraan listriknya, jangan sampai tertinggal dari negara lain seperti Korea Selatan," ujar Bambang.

Bambang menilai, produk otomotif Jepang selama ini mendapatkan kepercayaan tinggi dari masyarakat Indonesia dibandingkan negara lain.

Baca juga: Ioniq dan Kona Electric Jadi Kendaraan Operasional Pemprov Jabar

"Maka dari itu, saya harapkan Jepang mulai mengembangkan kendaraan listrik dan masuk ke Indonesia," ujar Bambang.

Dia juga mendorong percepatan migrasi dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik karena dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan.

"Selain lingkungan, migrasi kendaraan berbahan bakar minyak ke elektrik juga bisa meringankan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Bambang.

Bambang juga menyebutkan, pemakaian kendaraan listrik mampu menekan pengeluaran biaya rumah tangga karena hemat biaya.

"Jadi nanti kalau pakai kendaraan listrik, tidak perlu memikirkan biaya bensin harian, tune up dan ganti oli setiap bulan," ucap Bambang.

Dalam penjelasannya, dia juga menyinggung Hyundai Ioniq yang digunakan sebagai kendaraan resmi IMI. Bambang menceritakan, dia baru saja menggunakan Hyundai Ioniq untuk melakukan perjalanan ke Bali dan terbukti hanya membutuhkan biaya Rp 250 ribu.

"Sekali jalan ke Bali dari Jakarta, cuma Rp 250 ribu. Ini hemat sekali dibandingkan mobil konvensional yang butuh biaya sekitar Rp 2,5 juta untuk satu kali perjalanan ke Bali," ujar Bambang.

Foto:  Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo bersama mobil listrik Hyundai Ioniq di Jakarta, Minggu (21/2/2021)

Ikuti kami di
Penulis: Hari Darmawan
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas