Tribun Otomotif

Mobil Mewah Dilarang Pakai Pertalite, Gaikindo: Kemungkinan Mobil Kapasitas 3.000-4.000 cc

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengaku bahwa kategori mobil mewah sangatlah relatif.

Editor: Sanusi
zoom-in Mobil Mewah Dilarang Pakai Pertalite, Gaikindo: Kemungkinan Mobil Kapasitas 3.000-4.000 cc
Istimewa
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana larangan pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite akan diterapkan pada kendaraan baik mobil dan motor mewah. Lalu, mobil dan motor apa saja yang termasuk kendaraan mewah?

Mengutip Kompas.com, pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) berencana melarang kendaraan berkategori mewah menggunakan atau membeli bensin jenis Pertalite yang memiliki RON 90.

Hal ini seiring dengan rencana revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, serta Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. Sebab dalam wacana tersebut, belum ada klasifikasi jelas atas kategori itu.

Baca juga: Mobil Mewah Dilarang Minum Pertalite, Konsumen Mulai Protes, DPR Sindir Orang Kaya

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengaku bahwa kategori mobil mewah sangatlah relatif.

"Kalau melihat dari harganya, Rp 1 miliar pun bus dan truk harganya itu segitu. Masa iya dibilang mobil mewah? Jadi memang harusnya terdapat penjelasan lebih rinci," kata dia, Minggu (1/6/2022).

Namun, apabila mengacu pada peraturan yang ada, Kukuh memperkirakan kategori mobil mewah yang dimaksud ialah berkapasitas 3.000 cc sampai 4.000 cc dan sport car. Sebab, pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)-nya sangat tinggi. Lagipula, populasinya sangat terbatas. Menjadikan kendaraan tersebut bukan sebagai mobil konvensional atau umum dimiliki masyarakat.

Baca juga: UPDATE Harga Pertamax dan Pertalite Hari Ini, 2 Juni 2022 di SPBU Seluruh Indonesia

"Menurut PP Nomor 73/2019, pengenaan PPnBM sport car dan mobil yang berkapasitas 3.000-4.000 cc sebesar 40 persen hingga 70 persen. Bila mengacu aturan itu, mungkin golongan ini yang dimaksud," kata Kukuh.

"Kalau benar, tentu pengguna terkait memang tidak menggunakan BBM jenis itu. Bahkan, LCGC saja sebenarnya sudah disarankan RON 90 ke atas," tambahnya.

Sementara menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita beberapa waktu lalu, hanya mobil dengan harga Rp 250 jutaan saja yang termasuk kendaraan rakyat. Pasalnya, kendaraan jenis ini dimiliki oleh sekitar 60 persen masyarakat Indonesia. "Kendaraan dengan jenis tersebut mendominasi pasar mobil di dalam negeri dan sesuai dengan daya beli masyarakat. Jadi, kami berpendapat bahwa mobil dengan harga di bawah Rp 250 juta bukan lagi merupakan barang mewah, namun telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat," ujar Agus.

Dengan pertimbangan tersebut, ia mengusulkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati agar mobil dengan harga penjualan di bawah Rp 250 juta dengan local purchase minimal sebesar 80 persen tidak dikenai PPnBM mulai tahun ini. Hal itu menurut dia, dapat menjaga kelangsungan industri otomotif di tahun 2022 dan selanjutnya.

Baca juga: Soal Mobil Mewah Dilarang Beli Pertalite, DPR: Harusnya Kaum Mampu Malu Beli BBM Subsidi

Harga BBM naik

Sementara itu, di tengah rencana pembatasan pembelian Pertalite, harga BBM jenis tertentu kembali naik. Kenaikan harga BBM terjadi di SPBU Shell.

Berdasarkan pengamatan Kontan.co.id, kenaikan harga BBM di SPBU Shell berlaku untuk produk Shell Super dan Shell V-Power.

Harga BBM jenis Shell Super naik dari sebelumnya Rp 16.630 menjadi Rp 17.500 per liter mulai 1 Juni 2022. Harga BBM Shell V-Power naik dari sebelumnya Rp 17.280 menjadi Rp 18.500 per liter mulai 1 Juni 2022.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas