Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengenal Lebih Dekat Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Hari Pendidikan Nasional

2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ini sosok di baliknya: Ki Hajar Dewantara

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mengenal Lebih Dekat Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Hari Pendidikan Nasional
Tribunnews.com/(Ganesha Operation)
KI HAJAR DEWANTARA - 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tapi di balik momen ini, masih banyak yang belum benar-benar mengenal sosok di baliknya: Ki Hajar Dewantara. 

Karena itu, Taman Siswa didirikan dengan semangat kerakyatan, membuka kesempatan belajar bagi siapa saja, bukan hanya kalangan tertentu.

Tujuannya jelas, menghadirkan pendidikan yang lebih merata dan dekat dengan kehidupan rakyat.

Konsep pendidikan yang diterapkan pun berbeda dari sistem kolonial.

Ki Hajar mengganti pendekatan yang kaku dan penuh hukuman menjadi sistem “pamong”, di mana guru berperan sebagai pembimbing yang mendampingi proses belajar siswa.

Dari konsep ini lahir filosofi pendidikan yang dikenal luas hingga kini, seperti “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang menekankan peran pendidik sebagai teladan, penggerak, sekaligus pendukung dalam proses belajar.

Filosofi Pendidikan yang Masih Digunakan

Salah satu warisan paling dikenal dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyan “Tut Wuri Handayani”. Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi mencerminkan cara pandang tentang bagaimana seharusnya hubungan antara guru dan siswa dalam proses belajar.

Semboyan tersebut merupakan bagian dari tiga prinsip utama yang ia rumuskan, yaitu Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), Ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Rekomendasi Untuk Anda

Ketiganya menggambarkan bahwa peran guru bukan sebagai sosok yang hanya memberi perintah, melainkan sebagai pembimbing yang hadir dalam setiap tahap perkembangan siswa.

Secara sederhana, “Tut wuri handayani” berarti guru tidak selalu harus berada di depan.

Ada saatnya guru berada di belakang, memberi dukungan dan kepercayaan agar siswa bisa berkembang dengan kemampuannya sendiri.

Pendekatan ini menekankan pentingnya kemandirian dalam belajar, bukan sekadar kepatuhan.

Perjuangan untuk Akses Pendidikan yang Merata

Inti perjuangan Ki Hajar Dewantara dapat diringkas dalam satu gagasan sederhana, yaitu pendidikan bukan hak istimewa, melainkan hak semua orang.

Pada masa kolonial, kesempatan untuk bersekolah hanya dimiliki oleh kalangan tertentu.

Kondisi ini membuat sebagian besar rakyat tidak memiliki akses untuk berkembang melalui pendidikan.

Melalui pendirian Taman Siswa pada 1922, Ki Hajar berupaya menghadirkan pendidikan yang bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas