Mengenal Lebih Dekat Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Hari Pendidikan Nasional
2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ini sosok di baliknya: Ki Hajar Dewantara
Editor:
Garudea Prabawati
Karena itu, Taman Siswa didirikan dengan semangat kerakyatan, membuka kesempatan belajar bagi siapa saja, bukan hanya kalangan tertentu.
Tujuannya jelas, menghadirkan pendidikan yang lebih merata dan dekat dengan kehidupan rakyat.
Konsep pendidikan yang diterapkan pun berbeda dari sistem kolonial.
Ki Hajar mengganti pendekatan yang kaku dan penuh hukuman menjadi sistem “pamong”, di mana guru berperan sebagai pembimbing yang mendampingi proses belajar siswa.
Dari konsep ini lahir filosofi pendidikan yang dikenal luas hingga kini, seperti “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang menekankan peran pendidik sebagai teladan, penggerak, sekaligus pendukung dalam proses belajar.
Filosofi Pendidikan yang Masih Digunakan
Salah satu warisan paling dikenal dari Ki Hajar Dewantara adalah semboyan “Tut Wuri Handayani”. Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi mencerminkan cara pandang tentang bagaimana seharusnya hubungan antara guru dan siswa dalam proses belajar.
Semboyan tersebut merupakan bagian dari tiga prinsip utama yang ia rumuskan, yaitu Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), Ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).
Ketiganya menggambarkan bahwa peran guru bukan sebagai sosok yang hanya memberi perintah, melainkan sebagai pembimbing yang hadir dalam setiap tahap perkembangan siswa.
Secara sederhana, “Tut wuri handayani” berarti guru tidak selalu harus berada di depan.
Ada saatnya guru berada di belakang, memberi dukungan dan kepercayaan agar siswa bisa berkembang dengan kemampuannya sendiri.
Pendekatan ini menekankan pentingnya kemandirian dalam belajar, bukan sekadar kepatuhan.
Perjuangan untuk Akses Pendidikan yang Merata
Inti perjuangan Ki Hajar Dewantara dapat diringkas dalam satu gagasan sederhana, yaitu pendidikan bukan hak istimewa, melainkan hak semua orang.
Pada masa kolonial, kesempatan untuk bersekolah hanya dimiliki oleh kalangan tertentu.
Kondisi ini membuat sebagian besar rakyat tidak memiliki akses untuk berkembang melalui pendidikan.
Melalui pendirian Taman Siswa pada 1922, Ki Hajar berupaya menghadirkan pendidikan yang bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Baca tanpa iklan