Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Imparsial: Penembakan di Papua Terkait Bisnis Militer

Kami mengkritik kebijakan keamanan di Papua, ujar Poengky Indarti, Direktur Eksekutif Imparsial.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - "Kami mengkritik kebijakan keamanan di Papua," ujar Poengky Indarti, Direktur Eksekutif Imparsial.

Menurut Poengky, kebijakan keamanan di Papua tidak relevan terkait banyaknya aparat keamanan, khususnya TNI, yang mencapai 16.000 personel. Sedangkan kepolisian 10.000 personel.

"Sebetulnya di Papua pengamanan di perbatasan saja (Papua Nugini)," ujar Poengky di kantornya, Kamis (7/6/2012).

"Apakah takut sama Papua Nugini," lanjutnya. Oleh karena itu, lanjut Poengky, pengamanan di Papua tidak perlu banyak di kabupaten atau kotamadya.

"Memang harus diakui di Papua terdapat kelompok-kelompok bersenjata yang menginginkan pemisahan dari Indonesia. Akan tetapi kelompok tersebut berada di hutan dan tidak terkonsolidasi," lanjut Poengky.

Poengky menyarankan agar kebijakan keamanan di Papua dihapuskan. "Jangan deply pasukan. Kita lihat malah banyak pelanggaran HAM. Toh ada aparat keamanan," tandasnya.

Poengky menengarai, TNI/Polri melakukan bisnis besar di pulau yang direbut melalui Operasi Trikora itu. Menurut Poengky, sumber daya alam yang sangat melimpah menyebabkan di sana banyak terjadi bisnis.

Rekomendasi Untuk Anda

Poengky mencontohkan adanya pemberian dana sebesar USD 10.000.000 dari PT Freeport ke Polri tahun 2011.

Klik Juga:

Sumber: TribunJakarta
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas