Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Puluhan Puskesmas di Bandung Tak Punya Apoteker

Tak semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Kota Bandung memiliki apoteker.

Puluhan Puskesmas di Bandung Tak Punya Apoteker
Warta Kota/Adhy Kelana
Seorang pasien memperlihatkan Kartu Keluarga saat hendak berobat di Puskesmas Pasar Rebo,Jakarta Selatan, Kamis (11/7). Dipuskesmas ini banyak warga yang belum mendapat Kartu Jakarrta Sehat, maka itu, untuk mengatasinya setiap pasien yang mau berobat harus memperlihatkan potocopy KK dan KTP. kla (Warta Kota/adhy kelana) 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Tak semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Kota Bandung memiliki apoteker. Dari 73 puskesmas, hanya 10 puskesmas yang memiliki petugas apoteker.

Bukannya Dinas Kesehatan Kota Bandung kekurangan tenaga apoteker, tetapi formasi dari Badan Kepegawaian Negara untuk posisi ini tak banyak.

"Jumlah apoteker di lingkungan Dinkes saat ini ada 14 orang. Sedangkan kebutuhan mencapai 76 orang untuk puskesmas dan seksi farmasi Dinkes," ujar Ahyani Raksanegara, Kadinkes Kota Bandung, saat ditemui dalam semiloka di Hotel Imperium, Jalan Doktor Rum, Rabu (13/11/2013).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, setiap pelayanan obat harus ada apoteker. Dengan adanya Sistem Penyelenggara Jaminan Sosial (SPJS) tahun depan, peranan apoteker menjadi krusial.

Hingga bulan ini baru sekitar 10 persen puskesmas yang ada tenaga apoteker. Ahyani mengatakan Dinkes Kota Bandung selalu meminta formasi untuk apoteker setiap tahun. "Karena formasi terbatas, kami akhirnya memilih yang tugasnya paling banyak. Kami memilih yang tugasnya multifungsi dan strategis," kata Ahyani.

Ahyani mencontohkan ketika Dinkes sedang fokus penurunan angka kematian ibu dan bayi, maka formasi dokter dan bidang yang didahulukan. Dinkes sudah berkoordinasi dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Ikatan Sarjana Farmasi untuk menjelaskan kondisi sedikitnya formasi yang diberikan dari pemerintah pusat.

"Kami yang di daerah selalu mendorong ke pemerintah pusat. Harus ada kebijakan dari pemerintah pusat atas kondisi-kondisi seperti ini," ujar Ahyani.

Tenaga apoteker sebenarnya banyak, karena jumlah lulusan di Bidang Farmasi mencapai ratusan tiap tahunnya di Kota Bandung. Kurangnya apoteker di Dinkes Kota Bandung bukan karena kekurangan tenaga.

"Sekarang untuk menjembatani adanya apoteker yang harus didayagunakan, yaitu dengan adanya standarisasi profesi, jangan gaji begitu saja. Kedua, kalau di pemerintah harus ada terobosan kebijakan," Kata Ahyani. (bb)

Ikuti kami di
Editor: Sanusi
Sumber: Tribun Jabar
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas