Warga Italia Ikuti Ritual Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta
Seorang warga asal Italia, Luca Pietrosanti (33), ikut rebutan gunungan dalam Garebek Maulud Keraton Kasultanan Yogyakarta.
Laporan Wartawan Tribun Jogja Ekasanti Anugraheni
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Seorang warga asal Italia, Luca Pietrosanti (33), ikut rebutan gunungan dalam Garebek Maulud Keraton Kasultanan Yogyakarta, di Masjid Gedhe Kauman, Selasa (14/1/2014) siang.
Luca, hadir bersama dua bocah kecil dan seorang teman wanitanya.
Saat gunungan selesai didoakan oleh para abdi dalem, Luca langsung menarik beberapa kacang panjang dan potongan bambu yang tertancap di Gunungan setinggi sekitar dua meter itu.
"Dapat banyak. Biasanya terus ditempel di dinding seperti tahun kemarin. Beberapa dibagikan keluarga juga," ucap Luca, sambil menggendong seorang bocah perempuan yang terlihat tidak ketakutan meski berada di tengah kerumunan ribuan orang.
Ternyata, Luca memang sudah mengikuti ritual ngalap berkah Garebek Maulud ini sejak dua tahun terakhir.
Pria yang tengah sibuk meneliti gamelan Yogyakarta itu, memang selalu menyempatkan diri datang ke ritual tahunan ini. "Sebenarnya di Italia ada juga ritual yang mirip ini," tutur bule berkacamata ini.
Ritual ngalap berkah ini, memang menjadi budaya tahunan warga Yogyakarta. Biasanya, Keraton Kasultanan Yogyakarta akan menggelar kirab tujuh gunungan setiap Garebeg Maulud.
Ketujuh gunungan itu, diberangkatkan dari Bangsal Ponconiti Keraton menuju ke Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman dan Kepatihan sekitar pukul 10.00 WIB.
Penghageng Tepas Dwarapura, KRT Jatiningrat yang akrab disapa Romo Tirun mengatakan, dari total tujuh gunungan yang disiapkan Keraton, lima di antaranya akan diantarkan ke Masjid Ageng Kauman.
Gunungan itu terdiri dari Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Pepak, Gunungan Dharat dan Gunungan Pawuhan.
Kemudian, satu Gunungan Kakung lainnya ditujukan ke Pura Pakualaman dan satu gunungan untuk Kepatihan dengan dikawal oleh prajurit Bugis dan Surakarsa.