Tribun

Mudik Lebaran 2014

Macet di Jalur Pantura, Jadi "Pak Ogah" Bisa Raup Rp 600 ribu Sehari

KEMACETAN arus lalu lintas saat arus mudik dan balik lebaran tahun ini dimamfaatkan sekelompok pemuda.

Editor: Sugiyarto
Macet di Jalur Pantura, Jadi
Tribunnews/JEPRIMA
Seorang Polisi sedang memasang tanda Pengalihan Arus Lalu Lintas di Kawasan Taman Marga Satwa Ragunan (TMR), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2014). Pengalihan arus terpaksa dilakukan untuk mengurai kemacetan dikawasan tersebut. (Tribunnews/Jeprima) 

TRIBUNNEWS.COM - KEMACETAN arus lalu lintas saat arus mudik dan balik lebaran tahun ini dimamfaatkan sekelompok pemuda.

Kendaraan di jalur tengah ini padat merayap sejak H-2 lebaran dan sekomok warga mengarahkan kendaraan supaya tak terjebak macet dari Jatinangor-Tanjungsari menggunakan jalan alternatif ke Desa Cileles menggunakan jalan bekas rel kereta api dan keluar di samping Mapolsek Tanjungsari atau samping Masjig Agung Tanjungsari.

Sejatinya, jalan alternatif ini lebih melambung dan dari Jatinangor-Tanjungsari berjarak 10 km daripada jalur biasa yang hanya berjarak 3 km saja.

Namun karena kemacetan membuat sekelompok pemuda berinisiatif memanfaatkan jalur alternatif dan menyiapkan anggota ormas di setpai perempatan atau pertigaan jalan desa ini.

“Ada lebih lima titik yang dipakai sekelompok pemuda ini yang menjadi petunjuk dan mengarahkan jalan yang harus dilalui di setiap persimpangan,” kata Kasatreskrim AKP Niko N Adiputra.

Menurutnya, di setiap persimpangan itu sekelompok pemuda ini meminta pungutan terhadap para pengguna jalan. “Untuk angkutan umum jenis mikrobus atau elf itu diminta Rp 5-10 ribu sedangkan kendaraan pribadi Rp 2-5 ribu,” katanya.

Dari aksi pungli itu, setiap hari bisa diperoleh penghasilan Rp 500-600 ribu. “Pungutan liar sambil menunjukan arah itu sudah berlangsung empat hari sejak H-2 atau ketika macet,” katanya.

Bahkan tak jarang, para anggota ormas ini memutarkan arah para pemudik lebih jauh lagi dengan harapan banyak pos persimpangan jalan yang dilalui dan bisa melakukan pungli lebih banyak lagi. “Sehingga aktivitaas ini ditegur warga setempat,” kata Kasatreskrim.

Bukan hanya di Jatinangor saja, warga yang melakukan pungli sambil mengarahkan pemudik ke jalur alternatif. Selaian di ruas Bandung-Sumedang juga dari Sumedang-Wado-Malangbong-Garut juga ada aksi serupa.

Sekelompok warga ini selektif memilih kendaraan yang berpelat nomor luar dari jalur utama yang macet supaya masuk ke jalur alternatif dan meminta pungutan sebagai balas jasa menunjukan arah. (std)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas