Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Remaja Berkelamin Ganda di Kediri, Berjilbab Tapi Berjiwa Lelaki

Selama ini AK mengaku sering merasakan sakit bila buang air kecil, namun kalau kencing melalui kemaluan wanita.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Wahid Nurdin
zoom-in Kisah Remaja Berkelamin Ganda di Kediri, Berjilbab Tapi Berjiwa Lelaki
SURYA/Didiik Mashudi
AK saat memakai jilbab di rumahnya, Rabu (21/10/2015). 

Laporan wartawan Surya, Didik Mashudi

SURYAMALANG.COM, KEDIRI  -  Terlahir memiliki alat kelamin ganda membuat AK (16) sempat dilanda galau. Meski saat sekolah memakai seragam busana perempuan dan berjilbab, namun jiwanya lebih mengarah sebagai anak lelaki.

"Anak saya marah dan ngambek kalau disuruh menyapu dan mencuci. Tapi kalau disuruh mencari rumput dan mencangkul malah bersemangat," ungkap Ny Tutik (50), ibunda AK di rumahnya Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri kepada Surya, Rabu (21/10/2015).

Diakui Ny Tutik, jika anaknya dalam keseharian lebih banyak bergaul dengan anak-anak lelaki daripada anak perempuan.

Termasuk dalam bermain olahraga menyukai sepak bola dan pencak silat.

Kelainan pembawaan anak ketiganya itu diketahui sejak kecil. Selain memiliki alat kelamin perempuan, juga punya kelamin lelaki meski tidak tumbuh sempurna.

"Anak saya sering mengeluh sakit saat kencing," ungkapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Terlebih di usia 16 tahun, Ny Tutik mengaku belum pernah mengetahui jika anaknya datang bulan.

"Kalau anak yang lain usia 16 tahun sudah datang bulan. Anak saya masih belum," tambahnya.

Namun Ani sudah pernah diperiksakan ke dokter Puskesmas Semen dan RSUD Gambiran.

Hasil pemeriksaan medis itu menunjukkan jika organ tubuh Ani lebih mengarah sebagai lelaki dibanding perempuan.

Namun untuk lebih memastikan lagi, AK telah dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya. Di rumah sakit rujukan ini harus menjalani pemeriksaan kromosom.

Tapi masalahnya, untuk pemeriksaan ke RS Dr Soetomo tidak punya biaya. Karena, untuk keperluan sehari-hari keluarganya juga masih kekurangan.

Ayah dan ibunya hanya buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu.

Sementara AK pelajar kelas 2 SMPN 2 Semen ini sangat berharap segera menjadi lelaki tulen. Namun diakuinya, keluarganya tidak punya biaya untuk menjalani operasi.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas