Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

LGBT Medan: Buat Apa Banyak Anggota, Tapi Negara Terus Menindas?

"Fokus kami menyadarkan pemerintah bahwa kami punya hak. Buat apa banyak anggota (LGBT) kalau tetap ada penindasan," ujar Ketua Cangkang Queer.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Jefri Susetio
Editor: Y Gustaman
zoom-in LGBT Medan: Buat Apa Banyak Anggota, Tapi Negara Terus Menindas?
TRIBUNNEWS/
Komunitas Lesbian Gay Bisexual Transgender dan Intersexual (LGBTI) Indonesia melakukan aksi di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (17/5/2015). Aksi tersebut dalam memperingati International Day Against Homophobia, Biphobia, dan Transphobia (IDAHOT) dengan tujuan menyerukan kepada masyarakat Indonesia untuk stop kekerasan kepada kelompok LGBTI. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Jefri Susetio

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) Kota Medan tidak mencari anggota banyak sekaligus tak memperoleh dana dari luar negeri.

Ketua Cangkang Queer, Edison Swandika Butar-butar, mengungkapkan komunitas LGBT tidak mencari anggota selayaknya organisasi pada umumnya. Tak penting banyak anggota di LGBT apabila negara dan masyarakat tetap menindas mereka.

"Kami buka mencari umat untuk jadi anggota sebanyak-banyaknya. Fokus kami menyadarkan pemerintah bahwa kami punya hak. Buat apa banyak anggota kalau tetap ada penindasan. Kami juga melakukan advokasi kepada anggota LGBT," ujar Edison saat dihubungi Tribun Medan, Sabtu (13/2/2016).

Cangkang Queer dan LGBT Medan tidak pernah memperoleh dana PBB ataupun lembaga swadaya masyarakat untuk kegiatannya. Selama ini dana kegiatan organisasi adalah iuran anggota GLBT.

"Kami tidak ada peroleh dana dari manapun, kalau terima uang sudah kaya kami semua. Dana kami kolektif, setiap diskusi uangnya dari iuran anggota, bukan dari lembaga luar negeri," beber dia.

Ia berharap masyarakat Indonesia sadar bahwa LGBT tak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Sehingga, punya hak yang sama sebagai warga Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

"Norma Indonesia terus berubah, dahulu perempuan enggak boleh sekolah. Kini, wanita banyak sekolah dan perempuan berkarier. Artinya, kemanusiaan harus dibangun," sambung dia.

Sumber: Tribun Medan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas