Para Penghuni dan Pedagang Yakin Pasar Kembang tidak akan Digusur Seperti Kalijodo
Kondisi Pasar Kembang (Sarkem) saat itu memang tampak sepi. Ani juga mengakui belakangan tak banyak pelanggan yang datang ke kawasan tersebut.
Editor: Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Hilir mudik pejalan kaki melintas di Gang 3 RW 3 Sosrowijayan Kulon, Sosromenduran, Gedongtengen, Yogyakarta, Senin (22/2/2016) malam.
Tribun Jogja (Tribunnews.com Network), malam itu juga mencoba berjalan menyusuri gang-gang tersebut.
Di sepanjang gang tersebut beberapa rumah tampak disinari dengan lampu warna-warni yang terkesan remang-remang.
Di sepanjang lorong tersebut juga sesekali tampak sejumlah wanita yang menyapa dengan ramah kepada setiap orang yang lewat, termasuk Tribun Jogja.
Langkah Tribun Jogja akhirnya berhenti setelah ada sapaan dari wanita yang mengaku bernama Ani.
"Mas mampir sini. Mau kemana sih, jalan terus juga sama saja," kata wanita tersebut.
Sejenak ngobrol dengan Ani, wanita yang mengaku berasal dari Magelang ini pun kemudian menawarkan jasa layanan plus-plus dengan tarif Rp 100 ribu untuk sekali kencan.
Namun saat Tribun Jogja mencoba jual mahal, Ani pun menawarkan beberapa layanan tambahan.
Kondisi Pasar Kembang (Sarkem) saat itu memang tampak sepi. Ani juga mengakui belakangan tak banyak pelanggan yang datang ke kawasan tersebut.
Ia mengaku jasa yang ia tawarkan tak semarak sebelumnya.
"Kebetulan ada hajat orang meninggal. Kita harus menghormati juga, karena kita kan berada di kawasan perkampungan. Jadi harus toleran," kata Ani.
Ani mengakui, jasa yang ia tawarkan adalah jasa prostitusi.
Namun demikian, lantaran berada di tengah perkampungan, ia juga harus aktif di kegiatan kampung. Bahkan saat ada pengajian, ia pun tak enak serta merta menawarkan jasanya secara vulgar.
Meski tidak bisa secara vulgar menjalankan aktivitasnya, Ani mengaku cukup tenang. Tak seperti yang terjadi di Kalijodo.