Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pasutri Kusoin dan Zubaidah, Saksi Sejarah Pembangunan Mapolresta Barelang

Dulu hanya ada beberapa bangunan saja yang berdiri di Polresta Barelang dan terbuat dari kayu dan hingga berubah menjadi beton permanen

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Setiawan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pasutri Kusoin dan Zubaidah, Saksi Sejarah Pembangunan Mapolresta Barelang
Tribun Batam/Eko Setiawan
Zubaidah dan Kisoin sang suami saat berada dirumahnya samping gudang barang bukti Mapolresta Barelang 

Untuk mencukupi keperluan hidup, Zubaidah membantu mencuci pakaian tiga orang anggota sabara yang tinggal di barak.

Ia diupah Rp 150 ribu perbulan.

Sementar Kusoin sang suami bekerja sebagai pembersih barak dia digaji Rp 1,2 juta barak besar dan Rp 600 ribu barak kecil.

Untuk menambah penghasilan, Kusoin nyambi meleles barang bekas seperti kardus, gelas dan botol air mineral.

"itu yang nyuruh dulu Pak Haji Limin. Dia polisi yang tinggal di Rumah Dinas. Sekarang bapak itu di Tanjungpinang kalau tak salah. Dia baik sekali, hanya dia polisi yang sering perhatikan kami sampai sekarang, kalau pulang memberishkan barak, biasanya pakde cari barang bekas," sebutnya.

Selama tinggal di samping gudang barang bukti, banyak hal yang mereka alami.

Menurutnya, banyak orang tengah malam mengambil barang bukti di gudang.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat ditegur, dia malah memelototi mereka.

"Dulu pernah malam-malam, ada bunyi berisik. Lalu bude sama pakde keluar melihat apa yang terjadi. Lalu bude senter-senter. Ternyata ada yang dekatin bude dan balik nanya mengapa disenter. Dia bilang kalau sudah ada izin atasanya. Bude malah disuruh diam, katanya mau dikasih uang, tapi gak pernah juga dikasih sampai sekarang. Sudah sering bude lihat kejadian seperti itu," sebutnya.

Memang, kejujuran pasangan ini membuat hidup mereka terus sederhana.

Seharusnya, dengan hidup dilingkungan Polresta Barelang, mereka tidak perlu susah-susah lagi mencari fasilitas.

Namun dia berfikir, dari pada menggunakan fasilitas barang bukti lebih baik mereka mencicil sepeda motor butut.

"Banyak yang bilang anggota disini, tinggal ambil aja satu sepeda motor yang gak dipakai. Tapi kami gak mau, biar aja kami cicil sepeda motor butut. Alhamdulilah, dua tahun cicilan selesai," sebutnya.

Sudah bertahun-tahun ia tidak pulang kampung ke Jawa Barat. Tubuh Zubaidah yang mulai tua dan sakit-sakitan tidak mampu lagi berdiri terlalu lama.

Gaji suaminya perbulan banyak dihabiskan untuk membeli obat.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas