Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ahmad Tohari Yakin Semua Orang Bisa Menjadi Sastrawan Asal Mau Berproses, Ini Tips darinya

"Semua orang bisa menjadi sastrawan, asal mau berproses," kalimat itulah yang pertama diucapkan Ahmad Tohari dihadapan ratusan mahasiswa

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sugiyarto
zoom-in Ahmad Tohari Yakin Semua Orang Bisa Menjadi Sastrawan Asal Mau Berproses, Ini Tips darinya
TRIBUN/DANY PERMANA
Sastrawan Ahmad Tohari 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - "Semua orang bisa menjadi sastrawan, asal mau berproses," kalimat itulah yang pertama diucapkan Ahmad Tohari dihadapan ratusan mahasiswa yang menghadiri Peluncuran Majalah Sastra Soeket Teki dan Dialog Sastra di Aula 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Kamis (6/11/2018).

Penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu ingin meyakinkan kepada seluruh orang yang datang bahwa siapapun bisa melahirkan karya sastra baik itu dalam bentuk novel, cerpen atau naskah lakon.

Lalu ia menjabarkan proses seperti apa yang seharusnya dilakukan.

Seluruh audien tampak cermat mendengarkan tips yang dibeberkan pria yang juga sempat menjadi seorang jurnalis itu.

Mereka seolah ingin mengikuti jejak pria 71 tahun yang telah melahirkan puluhan karya cerita fiksi.

"Nah berproses itu dimulai dari mana? Dimulai dari menyadari bahwa sastra itu penting. Penting untuk bangsa, untuk peradaban untuk kehidupan sosial. Bangsa yang kurang bersastra ya seperti kita ini," ucapnya sembari berdiri di atas panggung.

Rekomendasi Untuk Anda

Usianya yang sudah kepala tujuh tidak menghalanginya untuk berdiri sembari berbicara.

Meski panitia menyediakan sofa empuk namun ia terlihat ingin menghargai para mahasiswa agar cermat mendengar 'petuahnya'.

"Setelah sadar bahwa sastra itu penting mulailah membaca. Ini yang saya khawatirkan karena anak muda sekarang malas membaca ya, kalau malas membaca harapannya kecil," terangnya.

Ia meyakinkan seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik.

Semakin banyak bahan yang dibaca akan semakin mempengaruhi tulisan seseorang.

Proses selanjutnya yang ia sarankan adalah dengan menambah bacaan, berdiskusi dan terus menerus menulis.

"Ketika sudah menghasilkan sebuah karya jangan berpuas diri, itu racun! Kalau sudah puas dan menjadi narsis tinggal menunggu menjadi fosil," pesannya.

Iapun menyebut masa depan kesusastraan di Indonesia tidak terlalu memprihatinkan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas