Kreatifitas Bank Sampah Rukun Santoso di Klaten Olah Sampah, Lingkungan Bersih, Untung Diraih
Aktivitas memilah sampah di rumah sampah milik Bank Sampah Rukun Santoso ini sudah dilakoni oleh Sri Wahyuni sejak 2013.
Penulis: Daryono
Editor: Garudea Prabawati
“Sebelum Corona, banyak pesanan dari berbagai daerah. Ada yang pesan 100 tas, 200 tas. Ini karena ada Corona, pesanan jadi menurun,” bebernya.
Produk daur ulang sampah itu dijual dengan harga bervariasi. Untuk tas dibanderol antara Rp 50 ribu hingga Rp 125 ribu. Sedangkan dompet dijual dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu.
Saking banyaknya pesanan, pihak Bank Sampah sampai kewalahan dalam hal bahan baku.
Karena itu, mereka sempat membeli bahan baku berupa sampah plastik yang sudah dicacah dari daerah sekitar seperti Sukoharjo dan Yogyakarta.
Berawal dari Sampah yang Menggangu Saluran Irigasi Warga
Ketua Bank Sampah Rukun Santoso, Sriyono mengatakan Bank Sampah Rukun Santoso berdiri sejak 16 Maret 2013.
Ide untuk membentuk komunitas pengelola sampah ini awalnya muncul dari keluhan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulyo.
Saat itu, irigasi pertanian yang dikelola gapoktan kerap terganggu akibat adanya sampah rumah tangga.
“Kami akhirnya mendirikan komunitas pengelola sampah dengan nama Rukun Santoso pada 16 Maret 2013. Tugasnya membersihkan dan memilah sampah di aliran irigasi,” katanya.
Baca juga: YLKI Singgung Sampah Masker di DKI Jakarta Menggunung Hingga 1,5 Ton, Bagaimana Menanggulanginya?
Keberadaan komunitas pengelola sampah ini kemudian terus berkembang dan resmi berubah menjadi bank sampah pada 22 Desember 2014.
Dalam pengembangan bank sampah ini, mereka juga mendapat dukungan dari banyak pihak di antaranya anggota DPR dan perusahaan di wilayah Klaten.
“Sejak itu kami menerima pelatihan dan pesanan kerajinan dari sampah plastik dan kertas,” jelas dia.
Saat ini, jumlah anggota Bank Sampah Rukun Santoso sebanyak 20 orang dengan jumlah nasabah sebanyak 116 orang.
Dari mengelola sampah ini, sebelum ada Pandemi, Bank Sampah Rukun Santoso mendapat penghasilan kotor rata-rata Rp 6 juta dari penjualan sampah dan Rp 15 juta per bulan dari penjualan kerajinan.
“Selain memberdayakan masyarakat lewat ekonomi kreatif dan menambah kesejahteraan, adanya Bank Sampah ini juga membuat lingkungan lebih bersih dan sehat,” pungkasnya.
(*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.