Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Wawancara Eksklusif

Di Indonesia, Kedelai Hanya Tumpang Sari (2-Habis)

Rantai pasokan kedelai sangat panjang dan rumit, sehingga harga kedelai lokal mahal. Tapi petani kedelai tak pernah makmur.

Di Indonesia, Kedelai Hanya Tumpang Sari (2-Habis)
Tribun Jabar/GANI KURNIAWAN
Ketua Pusat Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Barat, Asep Nurdin saat sesi wawancara khusus bersama Tribun Jabar di Gedung Puskopti Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (2/6/2021). Wawancara terkait kondisi pengrajin tahu dan tempe pasca aksi mogok/libur produksi dan jualan akibat kenaikan harga bahan baku kedelai. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Mogok produksi seperti yang kembali terjadi pekan lalu, bukan kali pertama dilakukan para perajin tahu dan tempe di Indonesia.

Tahun ini saja, aksi mogok kemarin adalah yang kedua kalinya terjadi. Sebabnya sama: harga kedelai impor yang terus melambung.

Padahal, seperti diungkapkan Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Barat, Asep Nurdindi, produksi kedelai lokal sebenarnya sudah mampu memenuhi 30 persen dari kebutuhan nasional.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Berikut lanjutan petikan wawancara eksklusif jurnalis Tribun Jabar, Cipta Permana, dengan Ketua Puskopti Jabar, Asep Nurdindi di Kantor Puskopti Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 651, Kota Bandung, Rabu (3/6).

Berapa sebenarnya kebutuhan kedelai setiap tahunnya di Jabar? Apakah mungkin petani lokal kita mampu memenuhi kebutuhan tersebut?

Kebutuhan akan kedelai di Jabar antara 150 hingga 200 ribu ton per tahun. Hingga saat ini kedelai lokal belum pernah mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Produksi kedelai lokal kita, seperti yang diklaim pemerintah, telah mampu memenuhi 30 persen dari kebutuhan nasional. Ini berarti seharusnya setiap 10 karung kedelai impor yang dijual para pedagang, ada tiga karung kedelai lokal yang turut di jual.

Tapi faktanya, dari penelusuran yang saya lakukan ke setiap toko kedelai di Jabar, tidak ada satu karung pun kedelai lokal yang tersedia.

Inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran kami bahwa negara akan terus ketergantungan terhadap impor kedelai dibandingkan memaksimalkan potensi dari kedelai lokal.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: cecep burdansyah
Sumber: Tribun Jabar
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas