Tribun

Gempa Berpusat di Cianjur

Relawan Mahasiswa Bantu Terapi Psikologis Anak-anak Korban Gempa Cianjur

Dampak gempa dirasa dapat mempengaruhi mental para anak-anak tersebut di masa mendatang jika dibiarkan begitu saja dan tidak ditangani dengan baik.

Penulis: Mario Christian Sumampow
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Relawan Mahasiswa Bantu Terapi Psikologis Anak-anak Korban Gempa Cianjur
Tribunnews.com/Mario Christian Sumampow
Relawan mahasiswa Psikologi dari Universitas Esa Unggul Jakarta, Ahmad Dandiri bersama anak-anak korban gempa Cianjur di posko di kawasan Desa Ciputri, Kampung Tunggilis, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (2/12/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mario Christian Sumampow

TRIBUNNEWS.COM, CIANJUR - Korban gempa Cianjur dari kalangan anak-anak menjadi perhatian pihak relawan.

Khususnya dari sisi psikologis.

Dampak gempa dirasa dapat mempengaruhi mental para anak-anak tersebut di masa mendatang jika dibiarkan begitu saja dan tidak ditangani dengan baik.

Atas hal inilah para relawan mahasiswa membuka posko kesehatan di kawasan Desa Ciputri, Kampung Tunggilis, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat.

Posko ini didirikan oleh mahasiswa bidang kesehatan Universitas Esa Unggul, Jakarta.

Para mahasiswa tergabung dalam bidang kesehatan, farmasi, dan psikologi.

Baca juga: 1 Korban Gempa di Cicadas Ditemukan Kemarin, Basarnas Sebut Proses Pencarian di Worksite 3 Ditutup

Dari pendataan ke setiap posko, relawan mahasiswa mencatat masih banyak anak-anak korban gempa yang mengalami kecemasan, gelisah, hingga trauma dampak dari bencana.

Selain itu, akibat harus tinggal di posko, fungsi kegiatan para anak-anak jadi teralihkan. Anak-anak lebih sering begadang dan juga bermain gawai.

"Kita pendataan ke setiap tenda. Anak-anak mengalami kecemasan, gelisah, dan dampak trauma dari bencana yang terjadi," kata Ahmad Dandiri, relawan mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Esa Unggul, Jumat (2/12/2022).

"Setelah kita berkeliling, banyak terima keluhan aktivitas anak ini terganggu juga karena biasa sekolah dan sekarang enggak sekolah. Lalu alih fungsi kegiatannya lama begadang karena tidak tersalurkan enetgi kegiatanya dan lebih ke gadget," tambah.

Hal tersebut dijelaskan Dandiri memang berkaitan dengan psikologi anak, mengingat dari tumbuh kembangnya, anak-anak yang masih berada di usia lima hingga 10 tahun memang masih berhubungan dengan kegiatan motorik.

Sehingga karena tidak dimaksimalkan, para anak-anak ini mencari upaya kegiatan lain sebagai pelarian untuk memenuhi kegiatan motoriknya.

Untuk atasi hal ini, para relawan mahasiswa rutin mengajak anak-anak korban gempa untuk beraktivitas bersama seperti melakukan permainan, story telling, psikodrama, hingga memberi edukasi tentang gempa.

"Kita pakai intervensi kelompok, kita kumpulin, terus kita pakai sosiodrma juga, mereka bermain peran sehingga mereka lebih ekspresif mengekspresikan ke pemahaman mereka soal gempa, setelah sudah kasih edukasi," jelas.

Memasuki hari kesebelasan pasca gempa, Dandiri mengatakan para anak-anak kini sudah mulai berkembang dan tampak gelisah hingga kecemasan juga sudah semakin jauh berkurang.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas