Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Sekber KIB - BEM FEB Unila Berkolaborasi Gelar Diskusi Menatap Indonesia Maju

Mantan Ketua KPK Saut Situmorang menyatakan miris indeks korupsi Indonesia di bawah Timor Leste

Penulis: Erik S
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Sekber KIB - BEM FEB Unila Berkolaborasi Gelar Diskusi Menatap Indonesia Maju
istimewa
Sekretariat Bersama (Sekber) Kuning, Ijo, Biru (KIB) berkolaborasi dengan Universitas Lampung (Unila) menggelar diskusi, Kamis (14/9/ 2023) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Erik Sinaga

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Sekretariat Bersama (Sekber) Kuning, Ijo, Biru (KIB) berkolaborasi dengan Universitas Lampung (Unila) menggelar diskusi, Kamis (14/9/ 2023).

Diskusi tersebut mengambil tema “Menatap Indonesia Maju: Tantangan Masa Depan Global dan Midlle Income Trap”.




Drs Habil Marati, Koordinator Sekber KIB menyoroti penggunaan APBN yang tidak sesuai dengan profesionalitas dan imparsial.

Habil mengatakan saat ini kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Jokowi semakin liberal dan hanya menguntungkan para oligarki. 

“Padahal di dalam APBN ada ratusan triiun rupiah buat pendidikan tapi mutu pendidikan makin merosot,” jelasnya. 

Baca juga: Sekber KIB Datangi Markas Demokrat, Habil Marati: Bahas Pilpres 2024

Begitupula APBN soal ketahanan pangan, sambung Habil, yang malah membuat ketergantungan akan BLT. Saat ini rakyat dibuat sengaja miskin demi kepentingan elektoral pemilu.

BERITA TERKAIT

“Situasi ini buat kemunduran dan sulit Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang. Untuk itulah Indonesia butuh figur yang visioner dan miliki integritas teruji dan miliki rekam jejak mumpuni yakni Anies Rasyid Baswedan,” tandasnya. 

Mantan Ketua KPK Saut Situmorang menyatakan miris indeks korupsi Indonesia di bawah Timor Leste.

Oleh karena itu ekonomi sulit keluar dari jebakan midle income trap yakni ekonomi morat marit penuh kasus korupsi yang bukan investor ogah masuk.

Sementara pengamat politik Rocky Gerung mengatakan negara yang makin sering persekusi suara kritis. Padahal negara tidak boleh membungkam kritisme.

“Karena negara butuh oposisi sebagai kontrol. Indonesia makin jauh dari azas demokrasi yang diinginkan ketika kita merdeka.

Padahal negara lain sudah fikirkan mau ke antariksa kita malah negara persekusi warganya,” tegasnya.

Dalam diakusi tersebut, tampak hadir dari KIB Prof Anwar Sanusi, Andrianto Andri , Makmun, Sirojudin dan lainnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Wiki Populer

© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas