Siswi SMA di Medan Tinggal Kelas, Diduga karena Kepsek Dipolisikan, Rosmaida: Jangan Dihubungkan
Viral di media sosial, seorang ayah bernama Choky Indra protes kenapa anaknya, MSF tak naik kelas.
Penulis: Muhammad Renald Shiftanto
Editor: Bobby Wiratama
"Karena seluruh kriteria dan persyaratan sudah terpenuhi selaku anak didik di sekolah tersebut. Sikap anak ini, baiknya sikapnya di raport. Yang kedua, kriterianya itu ketuntasan. Anak ini tuntas semua mata pelajarannya, tidak ada yang tidak (selesai secara pendidikan)," kata Basir, dikutip dari Tribun-Medan.com.
Ia juga menuturkan, MSF bukanlah siswi yang bermasalah.
"Dan anak ini, termasuk bukan anak punya masalah dan anak yang dianggap gurunya bagus," kata Basir.
Basir mengatakan bila soal absensi atau ketidakhadiran MSF tanpa keterangan, hal itu dikarenakan persyaratan pihak sekolah yang membuat minimal 90 persen.
Sementara di aturan Permendikbud yang lama minimal 75 persen kehadiran.
"Makanya setelah buka Permendikbud 23 tahun 2016 di situ kriteria itu diserahkan ke sekolah untuk menetukannya,"
"Walaupun sebelumnya di aturan sebelumnya disebut 75 persen. Dengan adanya permendikbud 23 itu, maka kriteria itu sesungguhnya ditentukan di sekolah. Kemudian, satu anak ini gak terpenuhi, itulah dia. Absensi dia lebih dari 10 persen karena minimal 90 persen kehadiran. Itulah yang diatur sekolah," lanjut Basir.
Ia juga menyebut, SMAN 8 Medan ini lalai.
Sebab, dalam pemeriksaan Kepsek, pihak SMAN 8 Medan baru melakukan pemanggilan orang tua di Bulan Juni.
Sementara absensi siswa terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Selasa, 25 Juni 2024: Bandar Lampung Cerah, Medan Hujan Lebat
"Itu kelalaian (pihak SMAN 8 Medan) saya bilang,"
"Orang tua baru dipanggil 11 juni kemarin,"
"Artinya upaya yang dilakukan satuan pendidik dalam hal pembinaan itu tidak ada informasi ke orang tua dan ke anak kalau segini absennya maka dia tinggal kelas,"
"Jadi itu diputuskan kepsek dan wakil ketika kenaikan kelas," ujar Basir.