5 Populer Regional: Nasi Kotak PON 2024 Panen Hujatan - IS Jadi Tersangka Pembunuhan Nia Kurnia Sari
Berita populer regional dimulai dari nasi kotak di gelaran PON Aceh-Sumut 2024 hingga tersangka pembunuhan Nia Kurnia Sari.
Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Suci BangunDS
TRIBUNNEWS.COM - Berita populer regional dimulai dari nasi kotak di gelaran PON Aceh-Sumut 2024 panen hujatan.
Nasi kotak yang dibanderol Rp 50 ribu yang disajikan ke para atlet dinilai tidak layak.
Warganet membandingkan nasi kotak tersebut jauh lebih baik nasi padang seharga Rp 10 ribuan.
Berita selanjutnya ada update kasus pembunuhan gadis penjual gorengan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Polisi telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus ini.
Ia berinisial IS yang sedang dalam pengejaran kepolisian.
Berikut rangkuman berita populer selengkapnya selama 24 jam di Tribunnews.com:
1. Harga Rp 50 Ribu, Nasi Kotak Atlet PON 2024 Tuai Hujatan, Netizen: Mending Nasi Padang Rp 10 Ribuan
Menu nasi kotak atlet PON 2024 dihujat tak bergizi.
Padahal harga dipatok Rp50 ribu dan anggarannya Rp 30,8 miliar namun makanan yang disajikan kering.
Bahkan ada snack atau ciki seharga Rp500.
Video keluhan tersebut, diunggah akun Instagram @ratu.nyinyir.officiall.
Terlihat di unggahan video viral, tampak sosok diduga atlet mengeluh soal makanannya.
Para atlet kecewa melihat menu makanannya kering bak tak bergizi di ajang sekelas Pekan Olahraga Nasional.
"Inilah makanan sehari-hari PON Aceh ini, atlet disuruh makan kering enggak berkuah gini, aduh, aduh, aduh, aduh," katanya.
Tampak beberapa menu disajikan dalam nasi kotak.
Seperti nasi putih, ayam sambal, ayam kecap, telur sambal, kerupuk, tempe, sayur kacang panjang dan wortel kering, tumis sosis, pisang, jeruk, hingga air mineral saja.
Sedangkan untuk snack tampak dua buah roti, chiki, dan air mineral.
"Menyala ayam," ujar seorang pria.
"Ini makan dari Aceh buat atlet PON, dibuka ini ada kerupuk, ini ada pisang," kata video lainnya.
2. Dekan FK Undip Akui Ada Pungutan Puluhan Juta, Yan Wisnu Sebut untuk Nyanyi hingga Sepakbola
Inilah kabar terbaru soal kematian dr Aulia Risma Lestari, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Diponegoro (Undip).
Terbaru ini, Komisi IX DPR RI dan RSUP dr Kariadi Semarang, Jawa Tengah mengakui ada tindakan perundungan yang dialami Aulia Risma.
"Kasus perundungan memang ada, oknumnya siapa sedang dicari," ujar Direktur Operasional RSUP dr Kariadi Semarang, Mahabara Yang Putra kepada Tribunjateng.com.
Kini, pelaku perundungan tengah dicari pihak kepolisian.
"Oknum itu melakukan perundungan dengan memanfaatkan posisinya."
"Lalu melakukan kekerasan terhadap adik kelasnya," imbuh dr Abba, sapaan keseharian Mahabara Yang Putra.
Selain itu, pihak Undip juga mengakui adanya pungutan iuran yang menimpa Aulia Risma.
Menurut Yan Wisnu Prajoko, Dekan FK Undip, pungutan tersebut senilai Rp20-40 juta per bulan yang dibayarkan setiap mahasiswa.
Di setiap angkatan PPDS Anestesi Undip, ada sebanyak 7-15 mahasiswa.
Mengutip TribunJateng.com, para mahasiswa tersebut dipungut uang puluhan juta pada semester pertama atau enam bulan pertama.
Yan mengeklaim, setelah itu, tak ada lagi pungutan kepada mahasiswa.
Ia menuturkan, iuran tersebut dikumpulkan untuk kebutuhan operasional mahasiswa PPDS Anestesi.
Seperti untuk menyanyi, sepakbola, atau bulutangkis.
"Uang digunakan untuk nyanyi, main sepakbola, bulutangkis, sewa mobil, sewa kos dan makan,"
3. Momen Emosional di Sidang PK Terpidana Kasus Vina Cirebon, Rivaldy: Saya Bukan Pembunuh
Inilah kabar terbaru soal sidang Peninjauan Kembali (PK) para terpidana kasus Vina Cirebon.
Diketahui, sidang PK lanjutan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Cirebon, Jumat (13/9/2024).
Dalam sidang tersebut, terjadi momen emosional saat Liga Akbar salah satu saksi memeluk salah satu terpidana, Rivaldy Aditiya Wardhana atau Ucil.
“Saya memang anggota XTC, tapi saya bukan pembunuh."
"Sampai mati, saya tetap XTC,” jelas Rivaldy.
Liga Akbar sebelum memeluk Rivaldy, ia terlebih dulu meminta maaf kepada enam terpidana kasus Vina Cirebon.
Ia dihadirkan dalam sidang sebagai saksi alibi, yang didatangkan oleh pemohon atau pihak terpidana kasus Vina.
Mengutip TribunJabar.id, keterangan yang diberikannya pada 2016 silam tentang adanya peristiwa pelemparan dan kejar-kejaran, tidak sepenuhnya benar.
“Saya meminta maaf kepada keluarga dan para terpidana."
"Saya tidak bermaksud untuk membuat mereka dihukum,” ujar Liga dengan nada penuh penyesalan.
Masih mengutipTribunJabar.id, Liga Akbar menegaskan ia tak memiliki niat jahat dalam memberikan kesaksian yang memberatkan.
“Demi Allah, bukan dari hati saya untuk memasukkan mereka ke penjara."
"Saya juga punya perasaan, dan kalau saya ada di posisi mereka, pasti saya merasa sakit," ucapnya, sambil menahan tangis.
Liga pun akhirnya diperbolehkan memeluk keenam terpidana satu per satu.
4. Kronologi Suami Bunuh Istri di Aceh, Tak Kuat Tahan Malu Korban Sering Live TikTok dan Karaokean
Kasus suami tega bunuh istri dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.
Diketahui pelakunya berinisial M (49), warga Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara.
Adapun motif kasus ini pelaku tak kuat menahan malu karena korban sering live TikTok hingga karaokean.
Berikut fakta-fakta kasus suami bunuh istri di Aceh Tenggara dirangkum dari web resmi Polres Agara, Minggu (15/9/2024):
Dari penemuan mayat
Kasus bermula saat warga menemukan mayat korban pada Kamis (12/9/2024) sekitar pukul 12.00 WIB.
Korban kala itu tergeletak di dalam rumahnya.
Warga kemudian membuat laporan ke kepolisian.
Tidak lama berselang, petugas mendatangi lokasi untuk mengevakuasi mayat korban dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Kematian korban dinilai janggal karena terdapat luka jeratan di lehernya.
Sementara pelaku M, tidak ada di rumah saat polisi mendatangi TKP.
M baru kembali ke kediamannya sekira pukul 19.00 WIB.
Ia langsung digelandang ke Mapolres Aceh Tenggara untuk dimintai keterangan.
Pada awalnya M membantah terlibat dalam kematian istrinya.
Dirinya baru mengakui perbuatannya setelah diinterogasi polisi pada Jumat (13/9/2024).
5. Polisi Tetapkan IS Jadi Tersangka Pembunuhan Nia Kurnia Sari Gadis Penjual Gorengan
Polisi menetapkan IS sebagai tersangka pembunuhan Nia Kurnia Sari (18), gadis penjual gorengan yang jasadnya ditemukan terkubur di Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Penetapan tersangka terhadap IS dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi termasuk mengumpulkan alat bukti di lokasi kejadian.
"Berdasarkan fakta, barang bukti, dan keterangan saksi, kami telah menetapkan tersangka dalam kasus ini dengan inisial IS," kata Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy dilansir dari TribunPadang.com, Minggu (15/9/2024).
IS diketahui merupakan warga Padang Pariaman.
Saat ini, tersangka masih dalam diburu kepolisian.
Pelaku diduga bersembunyi di hutan yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Pelaku Sembunyi di Gubuk Hutan
Warga sempat melihat pelaku bersembunyi di di sebuah gubuk yang berada di hutan.
Polisi pun mendatangi gubuk tersebut.
Ternyata, pelaku sudah melarikan diri dan hanya menemukan tas milik pelaku.
"Hari ini, kami menemukan satu tas milik pelaku," kata AKBP Ahmad Faisol Amir dilansir dari Tribunpadang.com.
Namun, Faisol tidak merinci isi yang ada di dalam tas milik terduga pelaku.
Ia hanya menyebut, isi di dalam tas tersebut berupa bukti pendukung terkait kasus pembunuhan gadis penjual gorengan.
(Tribunnews.com)