Kisah Mereka yang Selamat dari Longsor Cisarua Bandung Barat
Longsor Cisarua telan puluhan rumah, 9 tewas, 80 hilang. Kisah Tanu, Hadiansyah, dan balita Arsa selamat.
Editor:
Glery Lazuardi
Di tengah puing-puing dan lumpur pasca longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, rumah milik Hadiansyah masih berdiri kokoh.
Namun, kebun bunga aster miliknya dan keluarganya yang sudah memasuki masa panen lenyap tertimbun material longsor.
“Kebun kembang saya panen dua minggu lagi, tapi kalau kembang milik orangtua saya, seharusnya saat ini masa panennya,” ujar Hadiansyah, Sabtu (24/1/2026).
Ia memiliki dua petak saung tanaman kembang, sementara selebihnya milik orangtua dan keluarganya.
Hampir 80 persen warga di kampung tersebut menggantungkan hidup dari kebun bunga, dengan panen berlangsung setiap tiga bulan.
Sekitar pukul 15.00 WIB, Hadiansyah terbangun karena mendengar suara gemuruh. Istrinya berteriak ada gempa.
Saat keluar rumah, ia melihat lumpur sudah meninggi hingga ke depan rumah.
“Ada tiga kali longsoran, durasi dari longsoran pertama hingga ketiga setengah jam hingga satu jam,” katanya.
Dalam kepanikan, Hadiansyah segera menyelamatkan istri dan anaknya yang berusia 6 tahun, lalu kembali untuk mengevakuasi orangtua dan kakaknya.
Lebih dari 15 anggota keluarga serta tetangga yang tinggal di sekitar lokasi ikut terdampak. Ada 13 rumah dan satu musala di sekitar rumahnya yang tertimbun longsor.
Meski rumah permanen yang ia bangun tujuh tahun lalu masih berdiri, Hadiansyah mengaku tidak bisa tidur dan masih terbayang peristiwa sore itu.
Ia belum memastikan apakah rumah tersebut akan tetap dihuni atau tidak.
“Saya masih trauma, belum tahu apakah akan tetap tinggal di sini,” ucapnya.
Balita Arsa Selamat di Atas Genting, Keluarga Masih Hilang
Hujan deras yang mengguyur selama tiga hari berturut-turut memicu longsor besar di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari (24/1/2026).
Baca tanpa iklan