Dugaan Skandal Riset Palsu WNI di Konferensi Internasional, ITB Buka Suara
ITB tegaskan dugaan manipulasi riset Prihantini bukan bagian aktivitas akademik kampus, kasus jadi tanggung jawab pribadi.
Editor:
Glery Lazuardi
“Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” ungkap Brian.
Meski demikian, ia menilai kasus ini tetap menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi citra dan kepercayaan terhadap ekosistem riset nasional Indonesia di mata internasional.
“Persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas,” katanya.
Brian juga menegaskan Indonesia memiliki mekanisme pengawasan integritas penelitian melalui berbagai institusi, mulai dari perguruan tinggi, komite etik, LPPM, hingga pengawasan dari pemerintah dan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN.
Kasus dugaan riset palsu ini sebelumnya mencuat dalam konferensi ISPPD di Kopenhagen setelah sejumlah peserta Indonesia diduga menggunakan identitas berbeda serta mempresentasikan penelitian yang diragukan validitas data dan afiliasinya.
Kronologi Kejadian
Dugaan skandal penelitian palsu yang melibatkan peserta asal Indonesia mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada 17 hingga 21 Mei 2026.
Kasus ini menjadi perhatian publik internasional setelah epidemiolog Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap berbagai kejanggalan yang ditemukannya selama konferensi berlangsung.
ISPPD dikenal sebagai salah satu konferensi ilmiah bergengsi di bidang penyakit pneumokokus. Tahun ini, acara tersebut dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara.
Namun, nama Indonesia justru menjadi sorotan akibat dugaan manipulasi identitas peneliti hingga kejanggalan data riset yang dipresentasikan.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Dwi membagikan kronologi awal terbongkarnya dugaan skandal tersebut. Ia mengaku mulai curiga saat melihat nama pemateri asal Indonesia bernama Prihantini.
Menurut Dwi, komunitas peneliti pneumonia asal Indonesia umumnya saling mengenal melalui publikasi ilmiah maupun jejaring akademik internasional.
“Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia,” ujar Dwi.
Kecurigaan semakin menguat karena Prihantini disebut menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lain selama konferensi berlangsung. Saat diajak berbincang, ia disebut memperkenalkan diri menggunakan nama berbeda kepada orang yang berbeda.
Tak hanya itu, Dwi juga menemukan sejumlah kejanggalan dalam data penelitian yang dipresentasikan. Salah satunya terkait klaim pengumpulan data primer di wilayah Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal.
“Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ungkapnya.