Ki Kusumo Berusaha Ajak Jean Claude Van Dame Gabung di Film Lo Ban Teng
Ki Kusumo pemilik Putra Kusuma Pictures lebih suka menggarap film dengan latar belakang kisah nyata, kali ini kisah pendekar asal Hokian
Editor: Toni Bramantoro
Film Lo Ban Teng menjadi film termahal dari rumah produksi Putra Kusuma Pictures, jadi mereka berharap film Lo Ban Teng ini bisa menjadi film kebanggaan Indonesia. Di harapkan sebelum akhir tahun 2020 film Lo Ban Teng sudah beredar baik di Indonesia maupun negara lain.
Lo Ban Teng berkisah tentang seorang pemuda dari Desa Ciobee, Hokkian. Di desa tersebut dia bersama keluarganya adalah pendatang. Ayahnya, Lo Ka Liong membuka usaha arak bernama Kim Oen Hap.
Sejak umur 14 tahun, Lo Ban Teng sudah belajar kungfu pada seorang guru di desanya. Merasa cukup ampuh, dia petantang petenteng di depan segerombolan pemuda dan menantang berkelahi.
Sayangnya bukan menjadi orang paling terakhir berdiri, Lo Ban Teng justru babak belur dihajar habis-habisan.
Dasar kepala batu, selepas kejadian tersebut keinginannya untuk belajar kungfu justru makin kuat. Ayahnya was-was dengan ambisi Lo Ban Teng. Umur 17 tahun, Lo Ban Teng dikirim ayahnya ke Kampung Selan, Semarang Jawa Tengah. Disana, dia hanya bertahan 7 bulan. Lo Ban Teng memutuskan kembali ke Tiongkok.
Sekembalinya dari Semarang, Lo Ban Teng mendengar tentang adanya ilmu gingkang atau melompat melebihi tinggi tubuhnya hingga ke atas genteng.
Sejak saat itu dia kembali menekuni kungfu lagi. Dia mengabdi pada guru tua kerempeng bernama Yoe Tjoen Gan, hingga menemukan rahasia teknik pukulan dahsyat, Kuntao Ho Yong Pay.
Ketika gurunya meninggal, Lo Ban Teng tetap belajar kungfu pada guru yang lain. Lo Ban Teng tak mengenal lelah untuk terus berguru dan belajar kungfu hingga ilmu-ilmu lainnya.
Termasuk mengobati orang.