Tribun Seleb

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Kerusuhan di Kanjuruhan, Valentino Jebreeet Harap Jangan Dulu Cari Kabing Hitam, Fokus ke Korban

Di penghujung laga Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, terjadi kerusuhan yang mengakibatkan 129 tewas.

Penulis: bayu indra permana
Editor: Willem Jonata
zoom-in Kerusuhan di Kanjuruhan, Valentino Jebreeet Harap Jangan Dulu Cari Kabing Hitam, Fokus ke Korban
Instagram @radotvalent
Valentino Jebret, seorang presenter olahraga. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Valentino Jebreeet mengungkapkan kesedihannya atas kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Di penghujung laga Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya terjadi kerusuhan yang mengakibatkan 129 tewas.

Diakui Valent, kabar kerusuhan yang menewaskan 129 orang tersebut sangat menggemparkan jagat sepakbola Indonesia dan dunia.

Baca juga: Berduka Atas Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Bonek: Ini Sangat Menyayat Hati

"Ini situasi yang memprihatinkan, memilukan, menyedihkan untuk kita semua sebagai pecinta sepakbola dan manusia tentunya," kata Valentino Jebreet dalam unggahannya di sosial media Instagram, Minggu (2/10/2022).

"Ratusan jiwa meninggal dunia dalam sebuah pertandingan sepakbola," ucapnya.

Sebagai presenter yang aktif sebagai komentator sepakbola, Valent mengajak masyarakat untuk fokus pada penanganan korban meninggal dan luka-luka.

Valent meminta agar masyarakat jangan dulu mencari kambing hitam dalam masalah ini sehingga para korban jiwa terabaikan.

"Gue pikir dengan pemberitaan yang begitu banyak, marikah kita fokus terlebih dahulu kepada penanganan korban, pendataan korban dan pemulihan korban yang masih dirawat," ujar Valentino.

"Gue pikir itu akan jauh lebih bijak dari pada kemudian kita mulai mengurai dan menganalisan dan mencari solusi siapa yang salah," jelasnya.

Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang usai Arema FC ditekuk oleh Persebaya dalam lanjutan Liga 1.

Aremania yang tak menerima kekalahan tersebut masuk ke lapangan hingga membuat kerusuhan, sementara itu polisi yang mencoba mengurai masa menggunakan gas air mata justru menimbulkam petaka.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas