Parenting Aman Menurut Psikolog: Bukan Soal Anak Nurut, tapi Merasa Dilindungi
Kepatuhan anak belum tentu menjadi tanda parenting yang sehat. Ini pandangan psikolog.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Anak menuruti perintah tanpa keberanian untuk menyampaikan perasaan atau pendapatnya sendiri.
Menurut Wiwik, relasi seperti ini berisiko menciptakan jarak emosional.
Anak belajar patuh, tetapi tidak belajar merasa aman. Padahal, rasa aman menjadi fondasi penting bagi perkembangan psikologis anak dalam jangka panjang.
Tantangan Parenting di Era Digital
Wiwik mengakui, menjadi orang tua di masa sekarang memiliki dua sisi sekaligus: lebih mudah dan lebih berat.
Di satu sisi, akses informasi tentang parenting sangat mudah didapat.
Orang tua bisa mencari referensi hanya dari genggaman tangan.
Namun di sisi lain, tekanan yang dihadapi jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Tekanan digital menjadi salah satu tantangan utama. Anak-anak kini sangat cepat beradaptasi dengan teknologi, bahkan sejak usia sangat dini.
Gawai, media sosial, dan ruang pergaulan digital membuka dunia yang luas, namun juga sulit dikontrol sepenuhnya oleh orang tua.
Selain itu, lingkungan sosial dan tekanan ekonomi turut memengaruhi pola pengasuhan.
Anak mudah membandingkan gaya hidup, pergaulan, hingga nilai-nilai yang mereka lihat dari luar rumah, sementara orang tua sering merasa tertinggal dan tidak siap.
Rasa Aman, Kunci Anak Mau Bercerita
Di tengah tantangan tersebut, Wiwik menegaskan bahwa rasa aman tetap menjadi kunci utama.
Anak yang merasa aman di rumah akan menjadikan orang tua sebagai tempat pertama untuk bercerita, terutama di usia dini hingga sekitar 12 tahun.
Ia menjelaskan, masalah sering mulai muncul ketika anak memasuki masa remaja dan mulai lebih dekat dengan lingkungan pertemanan.
Jika sejak kecil hubungan emosional tidak terbangun dengan hangat, anak akan semakin menjauh dari orang tua.