Parenting Aman Menurut Psikolog: Bukan Soal Anak Nurut, tapi Merasa Dilindungi
Kepatuhan anak belum tentu menjadi tanda parenting yang sehat. Ini pandangan psikolog.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
“Ini anaknya kalau aman, pasti anaknya mau dicerita sama orang tua,” kata Wiwik.
Menurutnya, keluarga yang hangat dan relasi yang nyaman akan membantu anak tetap terbuka, bahkan ketika memasuki fase remaja yang penuh perubahan.
*Bingung Jadi Orangtua karena Pola Asuh Lama*
Wiwi juga menyinggung fenomena banyak orang tua masa kini yang tumbuh dengan pola asuh keras di masa lalu, namun merasa ragu saat menerapkannya pada anak mereka sendiri.
Perubahan zaman yang cepat, derasnya informasi, serta maraknya kasus viral membuat orang tua terus mempertanyakan diri sendiri.
“Informasi-informasi yang terlalu cepat, terus banyak kasus yang viral, itu mempengaruhi kita sebagai orang tua,” ungkapnya.
Keraguan inilah yang sering menjadi beban psikologis orang tua. Mereka ingin menjadi orang tua yang baik, tetapi tidak ingin mengulang pola asuh keras yang dulu mereka alami.
Bagi Wiwik, jawabannya kembali sederhana namun mendasar, membangun rasa aman.
Parenting bukan soal siapa paling tegas atau paling lembut, melainkan siapa yang mampu menghadirkan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan menjadi dirinya sendiri.