Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Seleb
LIVE ●

Pekerja dengan Jam Kerja Berlebihan dan Gaya Hidup yang Buruk Rentan Sakit Jantung

Kelelahan akibat kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat mengganggu metabolisme tubuh. Itu memicu kenaikan tekanan darah.

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, hingga stres berkepanjangan bisa memicu penyakit jantung
  • Banyak penderita baru menyadari adanya gangguan jantung setelah kondisi sudah cukup berat dan membutuhkan tindakan medis lanjutan
  • Deteksi dini menjadi kunci penting untuk menekan angka komplikasi dan kematian akibat penyakit jantung

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan jantung tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. 

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penyakit jantung mulai banyak ditemukan pada usia produktif, dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti merokok, pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, hingga stres berkepanjangan.

Kondisi ini menjadi alarm serius, mengingat kelompok usia produktif merupakan tulang punggung keluarga sekaligus penggerak ekonomi. 

Sayangnya, banyak penderita baru menyadari adanya gangguan jantung setelah kondisi sudah cukup berat dan membutuhkan tindakan medis lanjutan.

Direktur Regional Mitra Keluarga Group, dr. Arina Yuli Roswitati, MS., MARS, menilai penyakit jantung saat ini semakin kompleks dan membutuhkan kesiapan layanan yang komprehensif.

Baca juga: Sakit Jantung di Usia Muda, Dokter Spesialis Beberkan Pemicunya

Rekomendasi Untuk Anda

"Penyakit jantung saat ini masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh dan berkesinambungan," kata dr. Arina ditemui di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (4/2/2026).

"Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," tambahnya.

Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci penting untuk menekan angka komplikasi dan kematian akibat penyakit jantung

Pemeriksaan rutin seperti cek tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, serta evaluasi risiko kardiovaskular dapat membantu mengidentifikasi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi kondisi darurat.

Di sisi lain, pemerataan akses layanan bedah jantung di Indonesia masih menjadi tantangan. 

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, hingga akhir 2022 baru sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung. 

Keterbatasan ini berdampak pada panjangnya antrean pasien di sejumlah fasilitas kesehatan, bahkan bisa mencapai 6 hingga 18 bulan.

Pemerintah pun menargetkan pada 2027 seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan kesehatan jantung nasional.

Sebagai bagian dari penguatan layanan, program unggulan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery) diperkenalkan sebagai protokol bedah jantung terintegrasi. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas